Insitekaltim, Samarinda – Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim) Rudy Mas’ud mengatakan lahan milik Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltim seluas sekitar 250 hektare di kawasan Teluk Balikpapan tengah disiapkan untuk dikembangkan menjadi sumber penerimaan daerah.
Menurutnya, lahan tersebut memiliki peluang untuk dikembangkan seiring aktivitas sejumlah perusahaan yang telah beroperasi di kawasan tersebut. Pemprov Kaltim pun mendorong kerja sama dengan perusahaan daerah agar aset tersebut dapat memberikan manfaat ekonomi sekaligus menambah Pendapatan Asli Daerah (PAD).
“Selain berdampak pada peningkatan penerimaan daerah, pengembangan kawasan tersebut juga akan mendorong pertumbuhan ekonomi dan memperluas serapan tenaga kerja,” ujarnya saat meninjau kawasan PT Kaltim Kariangau Terminal (KKT) Balikpapan dan lahan Pemprov Kaltim di sekitar Teluk Balikpapan, Kamis, 6 Agustus 2026.
Sejumlah perusahaan yang beroperasi di kawasan itu di antaranya PT Semen Indonesia, Wilmar Group, MMP, dan Wahana. Harum, sapaan akrabnya berharap perusahaan-perusahaan tersebut dapat bekerja sama dengan perusahaan daerah milik Pemprov Kaltim dalam pengembangan kawasan.
Pengembangan kawasan juga akan didukung pembangunan jalan sepanjang 2,1 kilometer. Jalan tersebut disiapkan untuk membuka akses menuju sejumlah perusahaan yang sudah beroperasi sekaligus mendukung aktivitas di kawasan lahan Pemprov.
“Dengan adanya jalan tol ini (Tol Pulau Balang), semua akses tertutup, kecuali jalan pemprov ini,” terangnya.
Harum menyampaikan pembangunan jalan tersebut juga menjadi bagian dari persiapan Pemprov Kaltim menyambut investor yang akan datang melihat kondisi kawasan.
“Kami ingin memastikan jalan dan kawasan ini benar-benar siap untuk dikunjungi investor,” tegasnya.
Ia menilai posisi kawasan Teluk Balikpapan juga menguntungkan dari sisi distribusi. Salah satunya bagi PT Semen Indonesia yang membutuhkan jalur distribusi dengan volume besar.
“Salah satu tenant kita adalah PT Semen Indonesia. Di sini volume produksinya akan sangat besar. Di Sungai Mahakam, Samarinda, kapal besar memiliki keterbatasan untuk masuk. Sementara di Teluk Balikpapan kapal-kapal besar dapat masuk, sehingga volumenya tentu jauh lebih besar. Distribusi menjadi lebih efektif dan efisien,” bebernya.
Selain perusahaan di sektor semen dan minyak, kawasan tersebut juga menjadi lokasi industri nikel. Harum menyebut dua tungku pabrik nikel yang saat ini beroperasi menyerap sekitar 1.200 tenaga kerja. Jika satu tungku tambahan beroperasi, jumlah tenaga kerja yang terserap diperkirakan mencapai 2.000 orang.
Sementara itu, bentuk konstruksi jalan 2,1 kilometer tersebut masih disesuaikan dengan kebutuhan kawasan. Pemprov Kaltim mempertimbangkan penggunaan rigid pavement, aspal, maupun perkerasan agregat.
Gubernur berharap pengembangan kawasan dan konektivitas tersebut dapat memperkuat aktivitas investasi sekaligus membuat aset milik Pemprov Kaltim lebih produktif bagi daerah.

