Insitekaltim, Samarinda – Teknologi modern, mampu mengubah yang tidak bisa menjadi bisa. Melalui teknologi modern, Perumdam Tirta Kencana Samarinda menyulap Air Sungai Mahakam, menjadi Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) berkualitas.
Mengusung merek Samaqua, Perumdam Tirta Kencana Samarinda menerapkan sistem penyaringan berlapis, sterilisasi, hingga pengemasan otomatis tanpa sentuhan tangan untuk memastikan produk aman dan layak dikonsumsi.
Kepala Pabrik AMDK Samaqua IPA Kalhol, Amin Ma’ruf, menjelaskan, perusahaan sengaja membangun sistem produksi yang terintegrasi. Dengan mencetak botol sendiri. Langkah itu dinilai lebih efisien dibanding membeli botol jadi dari pemasok.
“Kalau membeli botol jadi, satu kontainer hanya muat sekitar 60 ribu botol. Sementara kalau membeli preform atau calon botol, satu kontainer bisa memuat sampai 600 ribu. Jadi jauh lebih efisien meski investasinya lebih besar,” ujarnya di Samarinda, Rabu, 5 Agustus 2026.
Mesin pencetak botol tersebut, juga dinilai lebih fleksibel karena dapat digunakan untuk berbagai ukuran dan desain kemasan hanya dengan mengganti cetakan.
Setelah botol dicetak, air yang telah melalui Instalasi Pengolahan Air (IPA) Perumdam kembali diproses melalui sistem water treatment berlapis sebelum masuk ke ruang pengisian.
Menurut Amin, tahapan pertama menggunakan media green sand impor dari Amerika Serikat yang berfungsi menyaring kandungan logam seperti mangan, besi, hingga residu mineral lain yang berasal dari air baku Sungai Mahakam.
Selanjutnya air melewati filter karbon berbahan arang tempurung kelapa yang berfungsi menghilangkan bau dan rasa sehingga menghasilkan cita rasa air yang lebih segar.
Proses penyaringan kemudian dilanjutkan menggunakan filter bertingkat berukuran 10 mikron, 5 mikron hingga 1 mikron, sebelum kembali dimurnikan melalui sistem ultrafiltrasi bermembran 0,001 mikron.
“Setelah itu masih ada proses desinfeksi menggunakan sinar ultraviolet dan oksigen generator untuk memastikan bakteri tidak berkembang di dalam kemasan,” jelasnya.
Ia memastikan seluruh proses pengisian hingga penutupan botol berlangsung otomatis tanpa kontak langsung dengan pekerja sehingga tingkat higienitas produk tetap terjaga.
Sebelum dipasarkan, setiap produk Samaqua juga wajib menjalani masa karantina selama 24 jam untuk memastikan tidak ada pertumbuhan bakteri.
“Kalau dalam 24 jam hasilnya aman, produk siap dipasarkan. Selama ini alhamdulillah hasilnya selalu memenuhi standar karena sterilisasi mesin kami jaga dengan ketat,” katanya.
Saat ini pabrik mempekerjakan 12 orang yang terbagi dalam bagian produksi, pengemasan, gudang, hingga pemasaran.
Untuk kapasitas produksi, mesin pencetak botol mampu menghasilkan sekitar 2.000 botol per jam, sedangkan mesin pengisian memiliki kapasitas hingga 3.000 botol per jam.
Sementara mesin pengisian galon mampu memproduksi sekitar 120 galon per jam.
Amin mengakui, sebagian besar mesin produksi maupun bahan baku kemasan masih berasal dari luar negeri. Mesin didatangkan dari China, sedangkan bahan baku plastik juga masih bergantung pada impor sehingga sempat terdampak kenaikan harga akibat konflik global.
Ke depan, pihaknya berharap pemasaran Samaqua terus berkembang sehingga kebutuhan tenaga kerja juga meningkat.
“Kalau permintaan semakin banyak tentu kami berharap jumlah SDM juga bisa ditambah. Selain itu fasilitas pendukung seperti sirkulasi udara di area produksi juga perlu ditingkatkan agar kenyamanan pekerja semakin baik,” tutupnya.

