Insitekaltim, Samarinda – Suara musik yang mengalun di kawasan Car Free Day (CFD) GOR Kadrie Oening, Minggu, 2 Agustus 2026 mendadak mengundang perhatian pengunjung. Seorang pria berkaus olahraga berwarna merah maroon menghampiri kelompok musisi yang tengah menghibur warga di tepi jalan. Ia kemudian menyumbangkan beberapa lagu, bahkan sesekali memainkan drum. Sosok itu adalah mantan Wakil Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim) periode 2018-2023, Hadi Mulyadi.
Bernyanyi di tengah keramaian CFD bukan hal baru. Ia mengaku cukup sering diminta bergabung dengan kelompok musik saat berolahraga di kawasan GOR Kadrie Oening. Pagi itu, ia bahkan menghentikan rutinitas jogingnya setelah menyelesaikan tiga putaran untuk memenuhi ajakan bernyanyi.
“Tadi hanya tiga putaran karena tertahan nyanyi. Biasanya tujuh putaran. Minimal tiga putaran itu sudah sekitar dua kilometer, sudah cukup untuk jogging,” ujarnya usai bernyanyi.
Hadi mengatakan, olahraga telah menjadi bagian dari kesehariannya. Hampir setiap Minggu pagi, Rabu sore, dan Jumat sore ia menyempatkan diri berolahraga di GOR Kadrie Oening. Sesekali ia juga datang ke Car Free Night. Jika tidak sempat berlari di luar rumah, ia memilih menggunakan treadmill selama sekitar satu jam.
Menurutnya, menjaga kesehatan menjadi modal penting agar seseorang tetap dapat berkarya dan memberi manfaat bagi orang lain.
“Kalau kita sehat, kita bisa banyak bekerja, banyak beramal, banyak membantu orang. Tapi kalau kita sakit, banyak hal yang tidak bisa dikerjakan,” jelasnya.
Selain jogging, Hadi juga menekuni berbagai hobi lain seperti tenis meja, memanah, berkuda, bermain catur, hingga olahraga menembak. Baginya, bertambahnya usia bukan alasan untuk mengurangi aktivitas.
“Semakin tua, semakin banyak aktivitas,” ucapnya.
Semangat itu pula yang terus ia pegang setelah tak lagi menjabat sebagai Wakil Gubernur Kaltim. Hadi menegaskan dirinya memang pensiun dari jabatan, tetapi tidak dari aktivitas dan pengabdian.
“Bagi saya tidak ada pensiun. Saya pensiun dari jabatan, tapi saya masih mengajar, tetap jadi dosen, tetap menulis,” tuturnya.
Dunia pendidikan memang telah lama menjadi bagian dari perjalanan hidup Hadi. Sebelum memasuki dunia pemerintahan, ia telah mengajar selama 25 tahun. Kini, setelah kembali ke kampus selama dua tahun terakhir, total pengabdiannya sebagai dosen mencapai 27 tahun.
Tak hanya mengajar, Hadi juga tetap produktif menulis. Sejumlah buku dan enam karya puisinya telah menjadi rujukan di enam perguruan tinggi. Ia bahkan pernah diwawancarai akademisi dari Amerika Serikat terkait pengelolaan sumber daya alam dalam perpolitikan Kaltim, serta menjadi narasumber penelitian mahasiswa Universitas Indonesia mengenai pendidikan di Kaltim.
Bagi sebagian orang, masa pensiun identik dengan berkurangnya aktivitas. Namun tidak bagi Hadi. Baginya, masa purnatugas bukanlah akhir dari berkarya. Selama tubuh tetap sehat, ia ingin terus mengajar, menulis, berolahraga dan berbagi energi positif kepada masyarakat dengan caranya sendiri.

