Insitekaltim, Samarinda – Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Timur (Kaltim) Mas’ud Rifai meminta pemerintah daerah mengantisipasi potensi gangguan pasokan komoditas akibat kemarau panjang yang diperkirakan melanda sejumlah wilayah Indonesia.
Kondisi tersebut dinilai dapat memengaruhi ketersediaan barang yang dipasok dari luar Kaltim.
Rifai mengatakan, potensi kemarau perlu menjadi perhatian, karena sebagian kebutuhan masyarakat Kaltim masih bergantung pada pasokan dari daerah lain, khususnya wilayah Jawa dan Sulawesi.
“Saya ingat ada rilis BMKG terkait kemarau panjang yang akan dihadapi beberapa daerah di Indonesia. Ini juga kemungkinan besar akan memengaruhi pasokan barang, terutama produk yang didatangkan dari Jawa atau Sulawesi,” ujarnya di Samarinda belum lama ini.
Menurutnya, pemerintah perlu melakukan pemetaan sejak dini terhadap komoditas yang berisiko terdampak apabila terjadi gangguan produksi di daerah pemasok. Langkah tersebut penting agar dampak terhadap ketersediaan barang maupun perkembangan harga dapat ditekan.
“Ini juga perlu dimitigasi kira-kira dampaknya ke komoditas apa saja, kemudian kita harus bisa mencari langkah terhadap dampak tadi,” tegasnya.
Rifai menuturkan kondisi iklim menjadi salah satu faktor yang perlu diperhitungkan dalam menjaga stabilitas harga ke depan. Selain memastikan ketersediaan barang, pemerintah juga perlu memperhatikan kelancaran distribusi agar pasokan tetap aman.
Ia menyebut kemampuan pemerintah dalam mengantisipasi berbagai risiko eksternal, termasuk perubahan kondisi cuaca akan menentukan keberhasilan menjaga inflasi tetap terkendali.
“Kalau kita bisa mengamankan barang-barang tadi saya yakin inflasi kita masih bisa dikendalikan,” pungkasnya.

