Insitekaltim, Kutim – Jejak laut purba yang tersimpan di Air Terjun Tangga Bidadari, Desa Selangkau, Kecamatan Kaliorang, Kabupaten Kutai Timur menjadi salah satu daya tarik utama dalam verifikasi lapangan Geopark Sangkulirang-Mangkalihat, Selasa, 7 Juli 2026.
Situs warisan geologi yang diperkirakan terbentuk sekitar 11 hingga 16 juta tahun lalu itu dinilai memiliki nilai ilmiah, konservasi, hingga potensi pengembangan ekonomi masyarakat melalui geowisata.
Tim verifikasi meninjau langsung kondisi geologi kawasan, keanekaragaman hayati, serta keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan situs yang telah ditetapkan sebagai warisan geologi pada 2024. Penilaian tersebut menjadi bagian dari proses evaluasi Geopark Sangkulirang-Mangkalihat sebagai kawasan yang mengintegrasikan pelestarian alam, pendidikan, dan pembangunan berkelanjutan.
Secara geologis, Air Terjun Tangga Bidadari tersusun atas lapisan batugamping klastik berjenis wackestone dan batuan napal yang termasuk Formasi Maluwi berumur Miosen Tengah. Kawasan ini diperkirakan terbentuk sekitar 11 hingga 16 juta tahun lalu ketika wilayah tersebut masih berada di lingkungan laut.
Nilai ilmiah kawasan semakin diperkuat dengan ditemukannya fosil mikroorganisme yang menjadi bukti keberadaan laut purba di kawasan tersebut. Perubahan bentang alam akibat proses pengangkatan kerak bumi kemudian membentuk air terjun bertingkat yang kini menjadi ciri khas Tangga Bidadari. Di sela-sela batuan juga ditemukan rembesan minyak bumi yang menunjukkan adanya migrasi fluida dari bawah permukaan.
Selain menyimpan kekayaan geologi, Desa Selangkau juga memiliki potensi ekonomi melalui budidaya pisang yang dikembangkan masyarakat. Potensi tersebut menjadi salah satu unsur yang dinilai dalam konsep geopark, yang tidak hanya menitikberatkan pada pelestarian warisan geologi, tetapi juga mendorong pengembangan pariwisata berbasis edukasi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Hasil verifikasi lapangan di Air Terjun Tangga Bidadari diharapkan semakin memperkuat posisi Geopark Sangkulirang-Mangkalihat sebagai kawasan yang mampu menggabungkan nilai ilmiah, konservasi, dan pemberdayaan masyarakat dalam satu kesatuan pengelolaan berkelanjutan.

