Insitekaltim, Samarinda – Kepala Dinas Pangan Tanaman Pangan dan Hortikultura (DPTPH) Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) Fahmi Himawan menilai pelaksanaan Gerakan Pangan Murah menjadi momentum penting dalam menjaga stabilitas harga dan ketersediaan bahan pangan menjelang Hari Raya Idulfitri.

Menurut Fahmi, kegiatan tersebut memang rutin dilaksanakan menjelang hari besar keagamaan nasional, terutama saat memasuki bulan Ramadan hingga mendekati Idulfitri.
“Gerakan pangan murah seperti ini rutin dilakukan menjelang hari besar keagamaan nasional. Saat ini kita sudah memasuki 10 hari terakhir menuju Idulfitri, sehingga kegiatan ini sangat tepat untuk membantu masyarakat mendapatkan bahan pangan dengan harga terjangkau,” ujar Fahmi, Rabu 11 Maret 2026.
Ia menjelaskan, program tersebut juga merupakan bagian dari implementasi kerja Satuan Tugas Pengendalian Harga, Mutu, dan Keamanan Pangan yang telah dibentuk sejak awal tahun oleh pemerintah daerah.
Satgas tersebut merupakan amanah dari Badan Pangan Nasional, dengan pengarah utama Rudy Mas’ud sementara pelaksana teknisnya melibatkan berbagai instansi termasuk Dinas Pangan.
Fahmi mengatakan, keberadaan gerakan pangan murah juga menjadi sarana mempertemukan produsen dengan konsumen secara langsung.
Dalam kegiatan ini petani, peternak, kelompok tani (poktan), gabungan kelompok tani (gapoktan), hingga pelaku usaha pangan dapat menjual produknya dengan harga yang lebih terkendali.
“Ini menjadi media pertemuan antara produsen dan konsumen, sehingga masyarakat bisa mendapatkan bahan pangan strategis dengan harga di bawah harga eceran tertinggi,” jelasnya.
Terkait kondisi harga pangan menjelang Idulfitri, Fahmi mengakui terdapat kecenderungan kenaikan harga pada beberapa komoditas, yang umumnya terjadi setiap Ramadan.
Namun pemerintah tetap melakukan pengawasan melalui inspeksi mendadak ke pasar, distributor, hingga ritel untuk memastikan harga tetap terkendali.
“Satgas rutin melakukan sidak ke pasar, distributor, dan ritel agar harga tidak melebihi ketentuan harga eceran tertinggi,” katanya.
Ia menyebutkan salah satu komoditas yang mengalami kenaikan harga adalah cabai. Sementara komoditas lain seperti beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) dan minyak goreng relatif lebih stabil karena pasokan masih dikontrol oleh Perum Bulog.
“Yang relatif tinggi itu cabai, tetapi untuk beras SPHP dan minyak goreng masih cukup terkendali karena ada pasokan dari Bulog,” pungkasnya.
