Insitekaltim, Samarinda – Hiruk pikuk aktivitas perdagangan di Pasar Pagi Baru mulai menunjukkan geliat yang dinamis menjelang dua momentum besar, yakni perayaan Imlek dan bulan suci Ramadan.
Meski fluktuasi harga mulai membayangi beberapa komoditas pokok, para pedagang tetap melihat periode ini sebagai peluang emas untuk memperkuat posisi pasar mereka di lokasi yang baru.
Ardiwiyogo Tansir, pemilik gerai sembako yang baru sepekan terakhir membuka usahanya di Pasar Pagi Baru, mengakui bahwa pergerakan harga sudah mulai terasa, terutama pada komoditas telur ayam.
Menurutnya, kenaikan ini merupakan fenomena tahunan yang kerap terjadi saat permintaan pasar mulai meningkat.
Dalam wawancara di sela-sela kesibukannya menata stok barang, Ardi menyebutkan bahwa harga telur per piring (30 butir) telah mengalami kenaikan sekitar dua hingga tiga ribu rupiah dari harga normal.
“Untuk sembako, sementara yang sudah nyata terlihat naik itu telur. Dari harga sekitar Rp58.000 per piring, sekarang sudah menyentuh Rp60.000-an. Tapi harga ini tidak bisa dipatok pasti, karena telur fluktuasinya sangat tinggi dan hampir berubah setiap hari,” ungkap Ardi Sabtu, 7 Februari 2026.
Sementara untuk komoditas lain seperti beras, Ardi mengaku masih melakukan pemantauan harga pasar karena tokonya masih dalam tahap pengisian stok (restocking) pasca pembukaan resmi seminggu yang lalu.
Menariknya, gerai yang dikelola Ardi tampil dengan konsep yang sedikit berbeda. Di tengah kerumunan outlet sembako konvensional, ia mencoba menawarkan konsep belanja ala minimarket untuk memberikan kenyamanan lebih bagi pembeli eceran.
Ardi menjelaskan bahwa usahanya di Pasar Pagi Baru ini memiliki manajemen yang berbeda dengan usaha grosir milik keluarganya yang berada di rumah.
“Kalau di sini jujur saya buat untuk eceran, jadi harganya pasti sedikit berbeda dengan grosir. Kami mengusung konsep minimarket agar pembeli lebih nyaman. Masalah persaingan dengan outlet sebelah bagi saya itu biasa, karena setiap toko punya segmen pembelinya masing-masing,” jelasnya optimis.
Menjelang Imlek yang tinggal menghitung hari serta Ramadan yang kian dekat, Ardi justru tidak merasa terbebani dengan tantangan logistik atau kenaikan harga kulakan.
Baginya, periode ini adalah momentum terbaik bagi pedagang untuk mengejar pertumbuhan omzet.
Bukan hanya mengandalkan kebutuhan pokok seperti beras dan minyak, Ardi juga mulai menyetok produk musiman seperti aneka biskuit dan camilan kaleng yang biasanya menjadi primadona saat hari raya.
“Justru jelang Imlek dan Ramadan ini bukan tantangan, tapi kesempatan buat naikin omset. Itu pengaruhnya besar sekali ke pendapatan. Selain sembako, biskuit-biskuit itu yang biasanya penjualannya paling melonjak,” tambahnya lagi.
Sebagai penghuni baru di kawasan pasar tersebut, Ardi berharap pemerintah dan pengelola pasar terus mendukung fasilitas yang ada agar tingkat kunjungan masyarakat semakin meningkat. Baginya, keramaian pasar adalah kunci keberlangsungan hidup seluruh pedagang.
“Harapan saya kedepannya semoga Pasar Pagi Baru ini semakin ramai pengunjungnya. Kalau pengunjung banyak, pedagang juga ikut ramai. Biar kita semua yang mencari nafkah di sini bisa sama-sama hidup dan berkembang,” tutupnya.

