Insitekaltim, Samarinda – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Timur (Kaltim) melalui Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) terus berupaya mentransformasi wajah riset di daerah. Langkah ini diwujudkan melalui penguatan literasi riset di tingkat sekolah menengah hingga kolaborasi strategis dengan perguruan tinggi guna menciptakan inovasi yang berdampak langsung pada masyarakat.

Dalam kunjungannya ke SMA Negeri 10 Samarinda dalam acara seminar bertajuk Research Power Collaborative, Rabu, 4 Februari 2026, Kepala BRIDA Kaltim Fitriansyah menegaskan membangun ekosistem riset harus dimulai dengan mengubah pola pikir generasi muda.
Fitriansyah menjelaskan, seminar kolaboratif ini bukan sekadar pertemuan formal, melainkan upaya masif untuk membangkitkan gairah siswa dalam mengeksplorasi dunia riset dan inovasi (Risnov).
“Tujuan utama kami adalah memantik motivasi siswa agar mereka tidak lagi melihat riset sebagai sesuatu yang membosankan atau sulit. Kita ingin mereka menyukai dunia riset ini sejak di bangku sekolah. Jika pondasinya kuat, Kaltim akan memiliki stok peneliti unggul yang siap membangun daerah dengan basis data dan keilmuan yang kuat,” ujar Fitriansyah.
Oleh karena itu, tantangan masa depan menuntut daerah untuk memiliki daya saing tinggi, baik di level regional, nasional, maupun internasional.
“Inovasi adalah mata uang masa depan. Tanpa riset, kita akan tertinggal,” imbuhnya.
Dalam kesempatan tersebut, Fitriansyah memberikan apresiasi tinggi kepada civitas akademika SMA 10 Samarinda. Sekolah ini dinilai sebagai salah satu barometer pengembangan Risnov di Kaltim karena konsistensinya sejak tahun 2023.
“Hasil karya anak-anak SMA 10 ini tidak kaleng-kaleng. Setiap tahun dari 2023 sampai sekarang di 2026 mereka selalu aktif mengirimkan karya risetnya dengan pendampingan guru yang luar biasa. Tidak heran jika mereka hampir selalu menduduki posisi juara di berbagai ajang yang kami selenggarakan,” tuturnya.
BRIDA Kaltim telah menyusun peta jalan kompetisi yang jelas untuk memfasilitasi bakat-bakat muda. Selain Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) rutin yang menjaring 10 hingga 12 besar karya terbaik untuk dipresentasikan di hadapan dewan juri profesional, terdapat pula kompetisi yang berafiliasi dengan level nasional. Salah satunya adalah kompetisi roket air yang berbasis pada penerapan ilmu fisika.
“Lomba roket air ini kami gelar di level daerah, namun penyelenggara nasionalnya adalah Pusat Science Center Indonesia yang bekerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Pemenang di tingkat nasional nantinya akan mewakili Indonesia di ajang internasional. Ini adalah jalur prestasi nyata bagi pelajar kita,” jelas Fitriansyah.
Bergeser ke jenjang pendidikan tinggi, BRIDA Kaltim juga telah menjalankan program Kolaborasi Riset Inovasi Strategis (KRIS). Program ini dirancang untuk menjembatani akademisi kampus dengan para peneliti ahli dari BRIN.
Fitriansyah menekankan bahwa standar riset yang didanai dan didorong oleh BRIDA kini telah ditingkatkan. Pemerintah tidak lagi mengutamakan riset normatif yang hanya berakhir menjadi dokumen laporan atau buku di perpustakaan.
“Kami telah menaikkan levelnya menjadi riset terapan atau inovasi terapan. Artinya, riset tersebut harus bisa diimplementasikan langsung di lapangan. Kami mengajak dosen dan mahasiswa untuk mengirimkan proposal riset yang strategis. Jika dinilai layak dan berdampak bagi daerah, kami akan gandeng mereka untuk riset bersama,” tegasnya.
Melalui sinergi antara pelajar, mahasiswa, dan peneliti profesional, BRIDA Kaltim optimis bahwa Bumi Etam akan menjadi provinsi yang mandiri secara teknologi dan inovasi di masa depan.
“Kami tidak ingin riset hanya menjadi tumpukan kertas di perpustakaan. Di BRIDA, kami mendorong riset terapan. Mahasiswa dan siswa harus mampu melihat masalah di lapangan dan menyelesaikannya dengan inovasi,” pungkasnya.

