Insitekaltim, Kukar – Wakil Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim) Seno Aji menargetkan produktivitas padi di Kaltim dapat mencapai minimal 7 ton per hektare melalui replikasi teknologi dan metode pertanian yang telah diuji dalam demonstrasi plot (demplot).
Seno mengatakan, hasil demplot tidak boleh berhenti sebagai proyek percontohan. Teknologi pertanian yang telah menunjukkan hasil positif harus diterapkan secara lebih luas untuk mendongkrak produksi beras Kaltim.
“Kita lakukan replikasi. Kita lakukan secara massal. Hasil yang sudah didapatkan oleh Bank Indonesia, Politani, juga oleh peneliti-peneliti Fakultas Pertanian Unmul, mari kita secara bersama-sama memastikan hasil panen Kalimantan Timur setelah demplot ini disebarluaskan minimal 7 ton per hektare,” tegas Seno saat Panen Demplot Padi “LEISA” dan Digital Farming di Desa Sidomulyo, Kecamatan Anggana, Kutai Kartanegara, Kamis, 10 September 2026.
Seno menyebut, peningkatan produktivitas menjadi salah satu strategi Kaltim mengejar target swasembada beras pada akhir 2026. Saat ini, Kaltim memiliki sekitar 28.000 hektare sawah aktif dengan kemampuan memenuhi sekitar 58 persen kebutuhan beras daerah.
Angka tersebut meningkat dari sebelumnya yang hanya sekitar 30 persen kebutuhan beras Kaltim yang dapat dipenuhi dari produksi lokal.
“Artinya, kita sudah melakukan perbaikan intensifikasi lahan dan juga ekstensifikasi lahan. Kita lakukan cetak sawah, kita lakukan optimalisasi lahan yang dilakukan secara bersama-sama oleh TNI, Polri, dan seluruh masyarakat,” ujarnya.
Seno mencontohkan hasil demplot yang sebelumnya dilakukan di Bukit Biru. Produktivitas padi di lokasi tersebut meningkat dari sekitar tiga ton menjadi hampir tujuh ton per hektare.
Pada demplot di Anggana, pengembangan pertanian dilakukan melalui sistem Low External Input Sustainable Agriculture (LEISA) dan digital farming dengan pemanfaatan drone sprayer agriculture. Program tersebut melibatkan Bank Indonesia, Politani, peneliti, pemerintah daerah, penyuluh, serta kelompok tani.
Dukungan teknologi juga diberikan melalui penggunaan benih unggul, termasuk varietas Inpari dan penerapan bioinvigorasi benih.
Seno mengungkapkan evaluasi terhadap penerapan metode tersebut menunjukkan hasil positif, termasuk penurunan biaya penggunaan pupuk kimia dan berkurangnya hama.
“Setelah dua kali dilakukan dengan baik, dua kali dilakukan evaluasi, dilakukan analisis, dan ternyata memang ada penurunan biaya dari pupuk-pupuk kimia menjadi pupuk organik, kemudian juga penurunan hama,” ungkapnya.
Selain meningkatkan produktivitas, Pemprov Kaltim juga mendorong modernisasi pertanian melalui penggunaan rice milling unit, drone pertanian, traktor, dan combine harvester. Modernisasi ini diharapkan dapat meringankan pekerjaan petani sekaligus menarik generasi muda untuk melanjutkan sektor pertanian.
“Petani kita akan sejahtera, petani kita akan berjaya. Kita ingin memastikan anak-anak petani bisa melanjutkan aktivitas pertaniannya,” ucapnya optimis.
Pengembangan produksi pangan juga diarahkan ke wilayah yang masih memiliki keterbatasan produksi pertanian, termasuk Mahakam Ulu. Pemprov Kaltim berencana melakukan cetak sawah di wilayah tersebut agar tersedia lahan pertanian produktif.
“Sepuluh kabupaten/kota, kita pastikan semuanya bisa swasembada beras. Ini cita-cita kita bersama,” pungkasnya.

