Insitekaltim, Samarinda – Upaya memperkuat identitas Mamanda Kutai dilakukan melalui program pengabdian kepada masyarakat yang mengangkat pementasan berbasis ecological dramaturgy. Program bertajuk “Optimalisasi Identitas Budaya melalui Pementasan Mamanda Kutai Berbasis Ecological Dramaturgy” tersebut merupakan pengabdian dosen yang didanai melalui Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) Tahun Anggaran 2026.
Program ini dilaksanakan karena persoalan Mamanda Kutai dinilai tidak hanya berkaitan dengan keberlangsungan sebuah seni pertunjukan, tetapi juga menyangkut identitas budaya masyarakat Kutai.
Secara historis, Mamanda berkembang dalam wilayah Kalimantan yang dahulu memiliki keterhubungan administratif. Sebelum pemekaran wilayah, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur berada dalam satu kesatuan administratif pada masa pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Kondisi tersebut memungkinkan praktik kesenian tradisi, termasuk Mamanda, berkembang lintas wilayah dan komunitas. Setelah pemekaran, batas administratif kemudian ikut memengaruhi persepsi mengenai kepemilikan budaya.
Dalam perkembangannya, Mamanda lebih banyak dipersepsikan sebagai kesenian Kalimantan Selatan, sementara keberadaan Mamanda Kutai di Kalimantan Timur menghadapi persoalan pengaburan identitas. Persoalan tersebut semakin terlihat ketika dokumentasi kelompok Mamanda dari Kalimantan Timur digunakan dalam proses penetapan Warisan Budaya Takbenda Indonesia oleh Kalimantan Selatan. Mamanda Kutai sendiri telah tercatat sebagai WBTb pada 2021, tetapi hingga 2025 belum diikuti penguatan praktik, pembinaan, dokumentasi, dan pengusulan WBTb di Kalimantan Timur.
Kondisi tersebut menjadi salah satu urgensi Yofi Irvan Vivian bersama tim untuk melakukan pengabdian. Menurut Yofi, penguatan identitas tidak cukup dilakukan melalui pencatatan administratif, tetapi perlu dibangun kembali melalui praktik kesenian yang memperlihatkan karakter khas Mamanda Kutai.
“Ekologi tidak dimaknai semata sebagai alam fisik, tetapi menjadi sistem relasi antara manusia, sejarah, kekuasaan, dan praktik budaya yang membentuk keberlanjutan Mamanda Kutai,” ujar Yofi dalam wawancara, Selasa, 18 Agustus 2026.
Karakter tersebut antara lain terlihat dari penggunaan bahasa Kutai, ladon, struktur dialog, gerak peladon, serta musik iringan yang menjadi pembeda Mamanda Kutai dengan Mamanda Banjar. Namun, dalam praktiknya, Mamanda Kutai masih kerap ditampilkan secara singkat dan seremonial sehingga sejumlah unsur artistiknya tidak tampil secara utuh. Dokumentasi pertunjukan juga masih terbatas sehingga pewarisan pengetahuan banyak bergantung pada ingatan para pelaku seni.
Pengabdian ini menggandeng kelompok Memanda Panji Berseri di Kelurahan Panji, Kecamatan Tenggarong, Kutai Kartanegara. Kelompok tersebut telah mempertahankan Mamanda Kutai selama tiga generasi dan memiliki 26 anggota aktif, meski keterlibatan generasi muda masih terbatas.
Melalui program ini, tim akan merekonstruksi repertoar dan menyusun naskah Mamanda Kutai berbasis ecological dramaturgy, sekaligus memperkuat praktik musik, teater, serta kemampuan dokumentasi audio-visual. Program akan berpuncak pada pementasan Mamanda Kutai versi utuh pada Desember 2026 yang ditargetkan berlangsung minimal 60 menit dan terdokumentasi dalam bentuk video serta arsip foto.

