Insitekaltim, Samarinda – Pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Wahyudi yang bergerak di bidang penjualan souvenir khas Kalimantan Timur (Kaltim) masih menghadapi tantangan dalam mempertahankan eksistensi usaha.
Salah satu pedagang oleh-oleh yang akrab disapa Yudi, telah berjualan sejak puluhan tahun di kawasan Citra Niaga Samarinda. Beragam produk khas daerah dijajakan, mulai dari kaos, gelang manik, tas berbahan rotan dan manik-manik. Hingga beberapa kerajinan tradisional seperti mandau, patung, dan miniatur khas Kalimantan. Produk-produk tersebut umumnya menjadi incaran wisatawan dari luar daerah maupun mancanegara.
“Kalau orang luar biasanya yang dicari itu kaos, tas manik, mandau, patung, sama miniatur yang unik-unik lah mereka beli,” ujarnya Kamis, 15 Januari 2026.
Kata dia, bahan baku yang mereka gunakan seperti manik-manik dan kain sejauh ini tidak mengalami kendala berarti. Produk yang dijual pun berasal dari berbagai sumber, baik buatan pengrajin lokal maupun dari luar daerah.
“Ada yang dari sini, ada juga yang dari luar,” katanya.
Kemudian terkait metode pemasaran yang ia terapkan tersebut sempat mencoba berjualan secara daring, namun saat ini kembali fokus pada penjualan secara langsung.
“Online pernah tapi sekarang sudah tidak lagi karena kurang. Sekarang offline saja berjualannya,” ujarnya.
Lebih dalam ia menyebutkan usaha souvenir ini diketahui telah berdiri sejak tahun 1987 dan menjadi bagian dari wajah oleh-oleh khas Kaltim. Namun, seiring berkurangnya kegiatan yang di adakan seperti promosi dan event daerah, minat pengunjung pun mengalami fase penurunan.
“Saya berharap ke depan semoga seperti tahun-tahun kemarin banyak event lagi, bar orang-orang tahu bahwa ada pusat oleh-oleh di sini,” ujarnya.
Menurutnya, dahulu banyak kegiatan yang digelar oleh pemerintah dan berdampak langsung pada peningkatan kunjungan.
“Dulu banyak event dari pemerintah. Terakhir ikut itu MTQ, itu ramai sekali. Dari acara tersebut orang-orang mulai diarahkan ke Citra untuk pusat berbelanja oleh oleh,” jelasnya.
Sebelum menutup ia menjelaskan, meski kawasan Citra Niaga kini semakin ramai dengan kehadiran kafe dan usaha lain, hal tersebut belum memberikan dampak yang signifikan bagi UMKM souvenir.
“Kafe-kafe memang ramai tapi ke souvenir belum terasa, bahkan sekarang banyak tempat yang beralih jadi kafe, souvenir jadi makin sedikit,” jelasnya.
Oleh karena itu, ia berharap pemerintah kembali menggiatkan event dan promosi pariwisata agar produk khas daerah kita tidak semakin terpinggirkan dan tetap menjadi identitas Benua Etam.

