Insitekaltim, Jakarta – Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar menyebut posisi pasar modal Indonesia masih tertinggal dibandingkan negara-negara tetangga. Ia meminta dukungan pemerintah untuk memperkuat ekosistem pasar modal melalui kebijakan yang strategis dan kolaboratif.
Saat pembukaan perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) 2025 pada Kamis 2 Desember 2025, Mahendra menyebutkan bahwa kontribusi pasar modal Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) hanya mencapai 56 persen. Angka ini masih jauh di bawah India yang mencapai 140 persen, Thailand 101 persen, dan Malaysia 97 persen.
“Kontribusi pasar saham terhadap PDB kita masih tertinggal dibandingkan negara kawasan. Ini menunjukkan potensi besar, tapi juga tantangan yang membutuhkan kerja sama dan dukungan semua pihak,” kata Mahendra dalam live streaming YouTube.
Untuk mengejar ini diperlukan penyempurnaan regulasi seperti implementasi Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (P2SK), kebijakan pajak karbon, serta aturan yang mendukung pengembangan bursa karbon. Dukungan insentif perpajakan untuk sektor prioritas juga dianggap penting guna menarik lebih banyak investor.
“Kita memerlukan kerangka pengaturan yang lebih kuat dan kebijakan insentif yang relevan untuk mendorong pengembangan pasar modal yang lebih kompetitif,” ujar Mahendra.
OJK telah menyusun sejumlah program strategis untuk tahun 2025 guna memperkuat dan memperluas pasar modal. Program ini mencakup peningkatan kualitas dan jumlah perusahaan tercatat, pengembangan pasar karbon, dan peluncuran produk-produk ramah lingkungan.
Selain itu, Mahendra menekankan pentingnya penguatan tata kelola dan manajemen risiko di kalangan anggota bursa serta manajer investasi. Langkah ini bertujuan menjaga integritas pasar sekaligus memberikan rasa aman bagi investor.
“Kami berkomitmen membangun ekosistem yang mendukung pertumbuhan pasar modal agar lebih inklusif, berdaya saing, dan berkontribusi besar pada perekonomian nasional,” tambah Mahendra.
Meski menghadapi tantangan, OJK tetap optimistis bahwa pasar modal Indonesia dapat menjadi salah satu pilar utama pertumbuhan ekonomi. Sinergi antara pemerintah, pelaku pasar, dan pemangku kepentingan lainnya diyakini dapat membuka peluang baru bagi pasar modal Indonesia di tingkat global.