Close Menu
insitekaltim.com

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

    What's Hot

    Dishub Kaji Kebutuhan Armada Blue Bird, Tak Ingin Taksi Tambah Beban Jalan

    September 21, 2026

    Gerindra Punya Dua Nama di Bursa Pilwali Samarinda, Helmi: Semua Kader Punya Potensi

    September 21, 2026

    Harga Sawit Kaltim Menguat, Pendapatan Petani Berpeluang Naik

    September 21, 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    • Redaksi
    • Kode Etik
    • Pedoman
    • Kode Perilaku Perusahaan
    Facebook X (Twitter) Instagram
    insitekaltim.cominsitekaltim.com
    • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Politik
    • Pemerintah
    • ADVETORIAL
      • Diskominfo Kaltim
      • Diskominfo Kutim
      • DPRD Bontang
      • DPRD Kaltim
      • DPRD Kutim
      • DPRD Samarinda
      • Kemenkum Kaltim
    • Lifestyle
    • Olahraga
    • Kesehatan
    insitekaltim.com
    Home»Pendidikan»Menghapus Perpeloncoan Saja Tak Cukup, MPLS Ramah 2026 Darurat Kekerasan Seksual
    Pendidikan

    Menghapus Perpeloncoan Saja Tak Cukup, MPLS Ramah 2026 Darurat Kekerasan Seksual

    AminahBy AminahJuli 10, 202604 Mins Read
    Facebook Twitter WhatsApp Telegram
    Teks: Pengurus Dewan Pendidikan Provinsi Kalimantan Timur, Desy Rusmawaty (Dokpri)
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn WhatsApp Pinterest Email

    Insitekaltim, Samarinda – Peluncuran kebijakan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Ramah 2026 melalui Permendikdasmen Nomor 12 Tahun 2026 membawa angin segar bagi dunia pendidikan Indonesia.

    Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menegaskan, kebijakan ini merupakan perubahan paradigma radikal untuk mengubah wajah hari pertama sekolah dari momok perpeloncoan menjadi gerbang kebahagiaan yang penuh kasih sayang dan budaya damai.

    Namun, di balik optimisme tersebut para praktisi pendidikan mengingatkan adanya ancaman yang jauh lebih senyap, traumatis, dan sering kali terabaikan di lingkungan sekolah, yaitu kekerasan seksual.

    Pengurus Dewan Pendidikan Provinsi Kaltim Desy Rusmawaty mengingatkan, fokus pada penghapusan perundungan konvensional saja tidak akan cukup untuk menciptakan ruang aman yang hakiki bagi siswa.

    “MPLS yang bebas perundungan saja tidak cukup. Ada ancaman yang tak kalah nyata, bahkan sering kali lebih senyap dan lebih traumatis, yaitu kekerasan seksual. Dua isu ini adalah dua sisi mata uang yang tak bisa dipisahkan dalam upaya menciptakan lingkungan sekolah yang benar-benar aman,” ujar Desy kepada Insitekaltim, Jumat, 10 Juli 2026.

    Alarm Keras Data Kekerasan di Sekolah

    Kekhawatiran para praktisi pendidikan ini diperkuat oleh deretan data yang mengindikasikan bahwa sekolah di Indonesia berada dalam kondisi darurat kekerasan.

    Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) mencatat lonjakan kasus kekerasan di sekolah hingga lebih dari 600 persen dalam kurun waktu enam tahun terakhir (2020-2025).

    Mengejutkannya, sepanjang tahun 2025, kekerasan seksual mendominasi dengan porsi 52 persen dari total kasus, melampaui angka perundungan yang berada di angka 22 persen dan kekerasan fisik sebesar 18 persen.

    Kondisi ini diperparah oleh laporan Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) yang mendeteksi 60 kasus kekerasan besar sepanjang tahun lalu, di mana kekerasan seksual menempati urutan kedua dengan 17 kasus yang memakan 127 korban.

    Ironisnya, oknum pendidik justru kerap menjadi pelaku utamanya. Fakta ini berkelindan dengan Data Asesmen Nasional 2022 yang menunjukkan potensi kerentanan luar biasa, di mana 34,51 persen peserta didik di Indonesia berpotensi mengalami kekerasan seksual.

    Menyikapi alarm keras tersebut, Dewan Pendidikan Kaltim mengambil langkah progresif dengan menyusun materi khusus “Pencegahan Kekerasan Seksual” untuk siswa baru tingkat SMA/SMK sebagai kurikulum wajib dalam MPLS.

    Langkah ini dirancang untuk mendobrak tabu dan memberikan pemahaman fundamental mengenai batasan diri baik fisik, emosional, intelektual, sosial, seksual, hingga ranah digital.

    Melalui materi ini, siswa ditanamkan prinsip persetujuan yang tegas bahwa diam bukanlah bentuk persetujuan, serta pemahaman bahwa kekerasan seksual tidak melulu soal sentuhan fisik, melainkan juga mencakup siulan, tatapan, pesan teks, hingga penyebaran konten digital tanpa izin.

    Tantangan Baru di Era Digital dan Pemulihan Korban

    Transformasi pelaksanaan MPLS ke ruang digital yang digaungkan pemerintah juga membawa konsekuensi baru yang wajib diwaspadai. Ruang siber kini menjadi ladang subur bagi bentuk kekerasan seksual digital, mulai dari pengiriman foto bernuansa seksual tanpa persetujuan hingga ancaman kebocoran data pribadi (doxxing).

    Desy menekankan literasi digital yang diajarkan pada siswa baru tidak boleh lagi sebatas cara mengoperasikan gawai, melainkan harus menyentuh aspek etika digital, perlindungan data, dan pemahaman hukum atas jejak digital mereka.

    Selain aspek pencegahan, reformasi cara pandang terhadap korban menjadi poin paling krusial yang harus diubah oleh ekosistem sekolah. Desy menekankan agar institusi pendidikan mengadopsi prinsip LIVES Listen (dengarkan), Inquire (tanyakan kebutuhan), Validate (validasi dan percaya), Enhance safety (bantu rencanakan keselamatan), dan Support (berikan dukungan dan rujukan) guna memastikan korban tidak mengalami viktimisasi sekunder atau disalahkan atas musibah yang menimpanya.

    “Yang paling penting, materi ini mengajarkan bahwa korban tidak boleh disalahkan. Respons pertama ketika seseorang bercerita adalah percaya, dengarkan, dan bantu, bukan bertanya ‘kenapa kamu tidak melawan?’ atau ‘kenapa baru cerita sekarang?’” tegas Desy.

    Menegakkan Aturan dan Memutus Rantai Senioritas

    Untuk memastikan MPLS Ramah 2026 tidak berakhir sebagai macan kertas, sekolah-sekolah diwajibkan melakukan langkah konkret. Penyelenggaraan materi pencegahan ini harus melibatkan profesional seperti psikolog, guru Bimbingan Konseling (BK), serta Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPPK) di tiap satuan pendidikan dengan metode interaktif seperti lokakarya dan simulasi, bukan sekadar ceramah satu arah.

    Sekolah juga dituntut membuka kanal pelaporan yang aman dan responsif, sekaligus menyosialisasikan layanan eksternal seperti SAPA 129 dan kanal pengaduan resmi Kemendikbud secara masif.

    Lebih lanjut, ketegasan pemerintah dalam mematuhi Permendikdasmen Nomor 12 Tahun 2026 yang melarang keras keterlibatan alumni dalam pelaksanaan MPLS menjadi harga mati yang tidak bisa ditawar. Tradisi senioritas negatif di sekolah dinilai sebagai celah utama terjadinya berbagai tindak kekerasan.

    Pada akhirnya, keberhasilan MPLS Ramah 2026 akan diuji dari keberanian sekolah untuk tidak lagi menutupi kasus demi menjaga nama baik, melainkan menyelesaikan setiap laporan dengan transparan dan berkeadilan. Institusi pendidikan harus bertransformasi menjadi ruang di mana setiap suara didengar dan setiap individu berhak atas rasa aman yang mutlak.

     

    Abdul Mu'ti Mendikdasmen MPLS MPLS Ramah 2026 Pendidikan Aman Bencana
    Share. Facebook Twitter WhatsApp Telegram
    Aminah

    Related Posts

    Distribusi Seragam Gratispol Terkendala Cuaca, 20 Persen Paket Masih Menunggu Pelayaran

    September 21, 2026

    Erau Adat Kutai Jadi Ruang Belajar Budaya, Hetifah Dorong Pengetahuan Warisan Kutai ke Generasi Muda

    September 20, 2026

    Siswa SMA Keluhkan PJJ: Terkendala Jaringan hingga Sulit Fokus

    September 19, 2026

    Kaltim Kekurangan Jutaan Judul Buku untuk Capai Rasio Ideal Perpusnas

    September 18, 2026

    Kemendikdasmen Perkuat Layanan Pendidikan Anak Indonesia di Malaysia dan Luar Negeri

    September 18, 2026

    Kabut Asap Tebal, Sekolah di Samarinda Terapkan Pembelajaran Jarak Jauh

    September 17, 2026
    Add A Comment

    Comments are closed.

    @insitekaltim_
    Don't Miss

    Dishub Kaji Kebutuhan Armada Blue Bird, Tak Ingin Taksi Tambah Beban Jalan

    Ratu ArifanzaSeptember 21, 2026

    Insitekaltim, Samarinda – Rencana pengembangan layanan angkutan taksi di Kota Samarinda tak langsung disambut dengan…

    Gerindra Punya Dua Nama di Bursa Pilwali Samarinda, Helmi: Semua Kader Punya Potensi

    September 21, 2026

    Harga Sawit Kaltim Menguat, Pendapatan Petani Berpeluang Naik

    September 21, 2026

    APBD Perubahan Samarinda Dibayangi Dana Kurang Salur dan PAD Seret

    September 21, 2026

    Antrean Pertalite Mengular di 6 SPBU Samarinda, Pemkot Siapkan Skema Sistem Kupon

    September 21, 2026
    1 2 3 … 3,355 Next
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Redaksi
    • Kode Etik
    • Pedoman
    • Kode Perilaku Perusahaan
    © 2026 InsiteKaltim.com

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.