Insitekaltim, Samarinda – Pantangan menyapu rumah hingga ritual mandi air kembang menjadi bagian dari tradisi turun-temurun yang masih dijaga sebagian keluarga keturunan Tionghoa setiap perayaan Tahun Baru Imlek. Di Samarinda, tradisi tersebut hidup dan dijalankan dengan penuh makna di kediaman Gus Sumanti.
Pada perayaan Imlek 2026, Gus Sumanti membagikan kisah bagaimana nilai-nilai leluhur tetap dijaga, meski kehidupan modern dan perbedaan keyakinan menjadi bagian dari keseharian keluarganya.
Bagi keluarga Sumanti, yang akrab disapa Evi, Imlek bukan sekadar pergantian kalender lunar. Momentum ini dimaknai sebagai waktu sakral untuk menjaga keberuntungan atau hoki, sekaligus menghormati warisan budaya yang telah diwariskan lintas generasi.
Menariknya, meski secara pribadi memeluk agama Kristen, penghormatan Gus Sumanti terhadap adat istiadat Tionghoa tidak pernah luntur. Ia menilai budaya sebagai identitas bersama yang melampaui sekat-sekat agama.
Salah satu tradisi paling kuat dilakukan pada malam pergantian tahun. Saat keluarga besar berkumpul untuk makan malam, pintu rumah ditutup rapat dan tidak ada tamu yang diperkenankan masuk.
“Kalau kita lagi makan, pintu kita tutup. Tamu datang pun tidak kita buka. Karena kalau dibuka, itu sama saja rezeki kita diambil orang,” ujar Gus Sumanti saat ditemui, Selasa, 17 Februari 2026.
Tradisi tersebut melambangkan keyakinan bahwa rezeki yang sedang dinikmati keluarga harus benar-benar terjaga di dalam rumah, tanpa terpecah oleh kehadiran orang luar pada momen paling sakral.
Filosofi menjaga rezeki berlanjut hingga urusan kebersihan. Berbeda dari hari biasa, pada hari pertama Imlek keluarga dilarang menyapu lantai atau membuang sampah. Menyapu dipercaya sebagai simbol membuang keberuntungan yang baru saja datang.
“Setelah makan pun tidak boleh nyapu. Sampai besok sekitar jam 10 baru boleh. Sampah juga tidak boleh dibuang. Rezekinya jangan sampai hilang,” jelasnya.
Kewaspadaan juga diterapkan dalam aktivitas sehari-hari. Peralatan makan yang terjatuh atau pecah diyakini sebagai pertanda kurang baik. Bahkan, butiran nasi yang jatuh harus diambil dengan tangan, bukan disapu.
Selain itu, Gus Sumanti menjalani ritual mandi air kembang sebagai bagian dari penutup tahun lama. Kembang direndam di dalam bak mandi dan digunakan untuk membersihkan diri, sebagai simbol meluruhkan nasib buruk tahun sebelumnya.
“Mandi pakai air kembang. Kita beli kembang renteng, taruh di bak mandi. Besoknya baru dibuang,” tuturnya.
Menariknya, seluruh tradisi ini dijalankan di tengah keluarga yang sangat majemuk. Dalam satu keluarga, terdapat pemeluk Kristen, Konghucu, hingga Islam. Namun saat Imlek tiba, perbedaan keyakinan melebur dalam satu sikap yang sama: menghormati leluhur dan adat istiadat.
Di akhir perbincangan, Gus Sumanti menilai perayaan Imlek di Samarinda dengan barongsai dan naga yang tampil di kelenteng memiliki semangat serupa dengan hari raya agama lain. Ia menyamakan Imlek sebagai momentum pemersatu, layaknya Idulfitri bagi umat Islam.
“Kita ini Bhinneka Tunggal Ika. Bermacam-macam tapi tetap satu. Adat itu tidak pernah kita lupakan. Imlek ini seperti Lebaran bagi orang Tionghoa,” tutupnya.
Kisah dari kediaman Gus Sumanti menegaskan bahwa di Kota Tepian, tradisi bukan sekadar ritual, melainkan cara menjaga akar budaya sekaligus merawat persaudaraan di tengah perbedaan.

