Insitekaltim, Samarinda – Permasalahan susah buang air besar (BAB) atau konstipasi masih sering dipandang sebelah mata oleh sebagian besar masyarakat. Tidak sedikit orang merasa bingung dan heran karena tetap mengalami sembelit, padahal mereka merasa sudah cukup rajin mengonsumsi buah-buahan serta sayuran yang kaya akan serat.
Ternyata, mencukupi asupan serat dan cairan saja tidak selalu menjadi jaminan tunggal bagi kelancaran sistem pencernaan. Ada faktor gaya hidup lain yang tidak kalah penting namun kerap diabaikan oleh banyak orang, yaitu tingkat aktivitas fisik dan kebiasaan bergerak harian.
Dalam sebuah pembahasan mengenai mitos dan fakta kesehatan Tirta Mandira Hudhi menjelaskan, secara anatomi dan fisiologis, tubuh manusia sebenarnya didesain untuk senantiasa aktif bergerak. Ketika seseorang menerapkan gaya hidup sedenter atau terlalu banyak berdiam diri (mager), seluruh fungsi sistem di dalam tubuh akan ikut terdampak, termasuk pergerakan organ pencernaan di dalam usus.
”Karakter tubuh manusia itu didesain buat bergerak. Semakin rutin seseorang bergerak, itu akan membuat usus kita peristaltiknya juga mendekati maksimal alias normal, sehingga usus kita juga sehat ngikutin pemiliknya. Kalau orangnya mager, maka gerak peristaltiknya juga akan cenderung melambat,” terang Tirta.
Gerak peristaltik merupakan gelombang kontraksi remasan otot secara berirama pada dinding saluran pencernaan yang berfungsi mendorong sisa makanan dari lambung hingga menuju usus besar. Ketika seseorang kurang bergerak, ritme dorongan alami dari usus ini ikut menurun secara signifikan.
Akibatnya, sisa-sisa makanan tertahan jauh lebih lama di dalam usus besar. Selama proses tertahannya kotoran tersebut, usus akan terus menyerap kandungan air di dalamnya secara berlebihan. Kondisi inilah yang pada akhirnya membuat konsistensi feses berubah menjadi sangat padat, kering, keras, dan memicu rasa sakit saat hendak dikeluarkan dari tubuh.
Lebih jauh lagi, Tirta mengingatkan urusan buang air besar bukanlah isu sepele yang bisa diabaikan begitu saja. Kondisi sembelit yang berlangsung lama tanpa penanganan dapat memicu berbagai bahaya dan komplikasi kesehatan yang cukup serius bagi organ pencernaan. Penumpukan kotoran keras berisiko menimbulkan luka robekan pada area anus, peradangan ambeien atau hemoroid, infeksi cerna, hingga kondisi darurat berupa penyumbatan usus atau ileus.
Oleh sebab itu, mengatasi atau mencegah masalah sembelit memerlukan pendekatan gaya hidup yang utuh dan menyeluruh. Selain wajib memenuhi asupan serat dari makanan dan mencukupi kebutuhan air putih, masyarakat sangat disarankan untuk mulai membiasakan diri rutin berolahraga.
Aktivitas fisik harian seperti berjalan cepat, lari santai, maupun gerakan senam ringan sudah sangat efektif untuk merangsang dorongan otot perut dan usus. Dengan menjaga tubuh tetap aktif bergerak setiap hari, kinerja usus akan kembali bekerja secara optimal dan kesehatan pencernaan dapat terus terjaga dengan baik.

