Insitekaltim, Samarinda – Kunjungan ke Poli Jantung RSUD IA Moeis Samarinda menunjukkan tren peningkatan sepanjang 2026. Hingga Agustus, jumlah kunjungan tercatat sekitar 1.100, naik dibandingkan Januari yang berada di kisaran 998 kunjungan.
Kenaikan tersebut juga terlihat dari proporsi kunjungan Poli Jantung terhadap keseluruhan layanan. Pada Januari, porsinya sekitar 8,39 persen, kemudian meningkat menjadi 9,26 persen pada Agustus atau bertambah 0,87 poin persentase.
Angka itu menunjukkan kebutuhan terhadap layanan kardiovaskular di rumah sakit tersebut terus meningkat. Poli Jantung bahkan beberapa kali masuk tiga besar layanan dengan kunjungan terbanyak setiap bulan, bersama Poli Saraf dan Poli Penyakit Dalam.
Pemegang Program Klinik Gagal Jantung RSUD IA Moeis Syifa Mahmud Syukran Akbar mengatakan, peningkatan kunjungan tersebut berjalan seiring dengan bertambahnya kebutuhan penanganan pasien penyakit jantung, termasuk pasien yang berisiko berkembang menjadi gagal jantung.
“Karena memang kita tahu bahwa pasien-pasien dengan serangan jantung, pasien-pasien dengan gangguan irama jantung, itu kalau tidak tertangani dengan baik bisa berujung menjadi gagal jantung,” ujarnya.
Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan RSUD IA Moeis mengembangkan layanan khusus gagal jantung. Klinik ini mulai berjalan pada November 2025 dengan 16 pasien pada bulan pertama. Hingga pertengahan September 2026, jumlah pasien yang tercatat telah mencapai 22 orang.
Layanan ini secara khusus menangani pasien dengan fungsi pompa jantung yang menurun, termasuk kelompok dengan fraksi ejeksi di bawah 40 persen. Penanganannya tidak hanya diarahkan pada pengobatan, tetapi juga untuk menekan risiko pasien kembali masuk rumah sakit atau ke instalasi gawat darurat.
“Tujuan kita adalah mengurangi rehospitalisasi, mengurangi pasien kembali ke IGD, kemudian mengoptimalkan obat-obatan dan edukasi pasien,” kata Syifa.
Klinik gagal jantung kini dibuka empat hari dalam sepekan, Senin hingga Kamis. Pasien mendapatkan edukasi khusus melalui perawat gagal jantung serta akses komunikasi melalui grup WhatsApp yang melibatkan dokter dan perawat jantung selama 24 jam.
Dalam penanganan gagal jantung dengan fungsi pompa yang menurun, terapi diarahkan pada empat kelompok obat utama, yakni ACE inhibitor atau ARB/ARNI, beta blocker, MRA, dan SGLT2 inhibitor. Syifa menyebut penggunaan terapi tersebut pada pasien gagal jantung di Indonesia masih perlu terus ditingkatkan.
Selain pelayanan klinis, RSUD IA Moeis juga mulai membangun registri pasien gagal jantung untuk mendukung pengumpulan data dan penelitian. Data tersebut diharapkan dapat menjadi dasar pengembangan pelayanan sekaligus memberikan gambaran lebih jelas mengenai karakteristik pasien gagal jantung yang ditangani.
Pengembangan layanan juga diarahkan pada rehabilitasi jantung. RSUD IA Moeis berencana menyediakan latihan fisik terstruktur dan aman bagi pasien, termasuk pemeriksaan kemampuan berjalan melalui six-minute walk test

