Insitekaltim, Samarinda – Tekanan harga di Kalimantan Timur (Kaltim) meningkat sepanjang setahun terakhir. Inflasi tahunan pada September 2026 mencapai 3,98 persen, hampir dua kali lipat dibandingkan capaian pada September 2025 yang berada di level 1,77 persen.
Kenaikan harga terutama datang dari kebutuhan pangan dan biaya transportasi. Dua kelompok tersebut menjadi penyumbang terbesar inflasi tahunan Kaltim dengan total andil mencapai 2,74 persen.
Kepala BPS Provinsi Kaltim Mas’ud Rifai mengatakan inflasi bulanan pada September tercatat 0,18 persen. Sementara inflasi tahun kalender hingga September mencapai 2,82 persen.
“Pada September 2026 terjadi inflasi year on year (YoY) sebesar 3,98 persen di Kaltim,” ujar Mas’ud dalam rilis resmi BPS Kaltim, dikutip Jumat, 2 Oktober 2026.
Kelompok makanan, minuman dan tembakau menjadi sumber tekanan terbesar dengan inflasi tahunan 5,09 persen. Kelompok ini memberikan andil 1,53 persen terhadap inflasi Kaltim.
Kenaikan harga terjadi pada sejumlah kebutuhan masyarakat, terutama cabai rawit, daging ayam ras, minyak goreng, beras, jagung manis, sayuran dan ikan.
Cabai rawit menjadi komoditas dengan andil terbesar terhadap inflasi tahunan, yakni 0,26 persen. Daging ayam ras menyumbang 0,15 persen, sigaret kretek mesin 0,14 persen, minyak goreng 0,10 persen dan beras 0,08 persen.
Tekanan harga pangan juga masih terlihat secara bulanan. Kelompok makanan, minuman dan tembakau mencatat inflasi 0,24 persen pada September.
Cabai rawit kembali menjadi penyumbang terbesar dengan andil 0,13 persen. Harga bayam, kangkung dan tomat masing-masing memberikan andil 0,03 persen.
Di sisi lain, transportasi menjadi sumber tekanan terbesar kedua dengan inflasi tahunan mencapai 9,41 persen dan andil 1,21 persen.
Kenaikan harga bensin memberikan andil 0,55 persen terhadap inflasi tahunan Kaltim. Angkutan udara menyumbang 0,37 persen, sementara kenaikan juga terjadi pada harga pelumas atau oli mesin, biaya pemeliharaan kendaraan, solar dan sepeda motor.
Namun, kondisi transportasi pada September secara bulanan justru berbalik. Kelompok tersebut mencatat deflasi 0,04 persen akibat penurunan tarif angkutan udara.
Tekanan harga juga datang dari kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya. Inflasi tahunan kelompok ini mencapai 8,60 persen dengan andil 0,60 persen. Emas perhiasan menjadi komoditas utama dengan andil 0,47 persen.
Sementara itu, kelompok pendidikan mengalami inflasi 2,09 persen, kesehatan 1,93 persen, restoran 1,66 persen, serta perlengkapan dan pemeliharaan rutin rumah tangga 2,60 persen.
Meski demikian, sejumlah komoditas masih menahan laju inflasi. Di antaranya bawang merah, ikan gabus, parfum, tahu mentah, tarif kendaraan roda dua daring, tarif air minum PAM dan tas sekolah.
Jika dibandingkan dua tahun sebelumnya, tekanan harga Kaltim menunjukkan peningkatan. Inflasi September 2024 tercatat 2,16 persen, kemudian turun menjadi 1,77 persen pada September 2025, sebelum kembali naik menjadi 3,98 persen pada September 2026.

