Insitekaltim, Samarinda — Gema Tahun Baru Imlek 2577 (2026) di Kota Samarinda mungkin tak semeriah perayaan di kota-kota dengan populasi besar warga keturunan Tionghoa. Namun, di balik pagar rumah Sunjaya, kehangatan Imlek terasa begitu nyata hadir dalam kesederhanaan, doa, dan kebersamaan lintas latar belakang.
Bagi Sunjaya, warga keturunan Tionghoa yang menetap di Samarinda, Imlek bukan sekadar pergantian tahun, melainkan momen sakral untuk merawat tradisi leluhur sekaligus mempererat jalinan kebinekaan di lingkungan tempat tinggalnya.
Menjelang hari perayaan, Sunjaya telah memulai ritual bersih-bersih rumah. Tradisi ini dimaknainya sebagai simbol membuang nasib buruk tahun lalu dan menyambut keberuntungan yang baru. Meja tamu dipenuhi kue khas Imlek dan bingkisan sederhana yang disiapkan untuk menjamu siapa saja yang berkunjung.
“Kalau kami yang merayakan, ya bersih-bersih rumah, siap-siap bikin kue, bingkisan, buat menjamu tamu. Kebetulan saya masih memeluk Konghucu, jadi fokusnya adalah doa dan rasa syukur,” ujar Sunjaya saat ditemui di kediamannya, Selasa, 17 Februari 2026.
Dalam obrolan santai tersebut, Sunjaya menegaskan bahwa Imlek sejatinya adalah perayaan budaya, bukan semata-mata hari besar keagamaan. Hal inilah yang membuat perayaan Imlek di keluarga dan lingkungannya berlangsung cair serta terbuka bagi siapa saja.
“Sebenarnya Imlek itu bukan hari agama. Ini pergantian tahun menurut penanggalan lunar atau Chinese. Jadi siapa pun yang mau merayakan, silakan. Yang tidak pun tidak masalah,” jelasnya.
Keterbukaan itu tercermin dari tamu yang hadir. Kerabat, tetangga, hingga petugas keamanan dan juru parkir di sekitar tempat usahanya turut berbaur tanpa sekat. Sunjaya pun bercerita bahwa di dalam keluarganya sendiri terdapat beragam latar belakang keyakinan, mulai dari Islam, Buddha, hingga Nasrani.
Tak lengkap rasanya Imlek tanpa dominasi warna merah dan tradisi berbagi angpao. Bagi Sunjaya, merah bukan sekadar warna, melainkan simbol harapan akan rezeki dan kesejahteraan di tahun yang baru.
“Identiknya pasti angpao, karena merah itu melambangkan rezeki. Jadi kami warga keturunan ini fokusnya rezeki. Cuan, cuan, cuan,” ujarnya sambil tersenyum.
Meski perayaan Imlek di Samarinda berlangsung relatif tenang, mengingat jumlah warga keturunan Tionghoa di Kalimantan Timur tidak sebanyak daerah lain, Sunjaya menilai keakraban antarwarga justru terjaga kuat. Tanpa perayaan besar, silaturahmi personal menjadi kekuatan utama.
Ia juga menekankan pentingnya prinsip timbal balik dalam bertoleransi. Menurutnya, kunjungan saat Imlek adalah balasan dari kunjungan pada hari-hari besar lainnya.
“Nanti kalau Lebaran kita ke sana. Ada yang Natal, kita juga datang. Kita membaur semua. Dari momen seperti ini, pertemanan jadi akrab,” ungkapnya.
Meski dirayakan secara sederhana oleh keluarga sederhana, esensi Imlek tetap tersampaikan doa yang tulus, harapan rezeki yang lancar, dan persaudaraan yang tak terputus oleh perbedaan keyakinan maupun ideologi.

