Insitekaltim, Samarinda – Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Pemprov Kaltim) memberikan penjelasan resmi terkait anggaran jasa laundry senilai Rp450 juta yang belakangan ramai disorot publik dan viral di media sosial. Anggaran tersebut sebelumnya disebut-sebut sebagai biaya khusus untuk mencuci pakaian gubernur.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Biro Umum Setdaprov Kaltim Astri Intan Nirwany menegaskan, anggaran itu tidak digunakan untuk kepentingan pribadi kepala daerah. Namun, dalam dokumen anggaran memang tertulis “belanja laundry kepala daerah”.
Ia menjelaskan bahwasanya, secara praktik penggunaannya mencakup kebutuhan operasional sejumlah fasilitas pemerintahan.
Menurut Astri, anggaran tersebut dialokasikan untuk menunjang kebersihan berbagai perlengkapan rumah tangga di lingkungan rumah jabatan gubernur, dan beberapa gedung penunjang lainnya. Item yang dimaksud meliputi karpet, gorden, seprai, bedcover, hingga perlengkapan jamuan yang digunakan dalam berbagai kegiatan resmi.
“Jadi bukan untuk pakaian pribadi gubernur. Ini untuk kebutuhan operasional beberapa gedung, termasuk fasilitas yang digunakan untuk menerima tamu dan kegiatan pemerintahan,” ujarnya di Kantor Gubernur Kaltim di Jalan Gajah Mada, Samarinda, Senin, 4 Mei 2026.
Lanjutnya, terdapat sedikitnya enam gedung di kawasan rumah jabatan yang rutin digunakan untuk berbagai aktivitas, baik oleh pemerintah maupun masyarakat. Dalam beberapa waktu terakhir, intensitas penggunaan fasilitas tersebut meningkat cukup signifikan.
Hal ini tidak lepas dari kebijakan efisiensi anggaran yang mendorong pemanfaatan aset milik pemerintah sebagai lokasi kegiatan resmi, menggantikan penggunaan hotel atau gedung komersial. Dengan kebijakan ini, banyak agenda yang sebelumnya digelar di luar kini dipusatkan di lingkungan rumah jabatan gubernur.
“Sekarang kegiatan lebih banyak dialihkan ke fasilitas pemerintah. Tamu dari berbagai kalangan, mulai dari masyarakat umum, organisasi, hingga pejabat pusat dan daerah, sering menggunakan tempat ini,” jelas Astri.
Selain ruang pertemuan, kawasan tersebut juga dilengkapi guest house dengan sekitar 12 kamar yang diperuntukkan bagi tamu, termasuk tamu VIP. Kondisi ini menuntut standar kebersihan yang tinggi, terutama untuk perlengkapan seperti seprai dan bedcover yang harus dicuci secara berkala.
Tidak hanya itu, fasilitas lain seperti Lamin Etam dan Musala di Kompleks Rumah Jabatan juga aktif digunakan untuk kegiatan sosial dan keagamaan hampir setiap hari.
“Seluruh aktivitas itu turut berkontribusi pada kebutuhan layanan kebersihan, termasuk jasa laundry,” terangnya.
Meski demikian, Astri mengakui bahwa besaran anggaran Rp450 juta tersebut tetap akan menjadi bahan evaluasi.
Pemerintah provinsi akan menyesuaikan kembali alokasi anggaran dengan kebutuhan riil di lapangan, sejalan dengan kebijakan efisiensi yang tengah dijalankan.
“Ke depan akan kami kaji ulang. Prinsipnya, anggaran ini berbasis kebutuhan operasional selama satu tahun dan tetap terbuka untuk penyesuaian,” pungkasnya.

