Insitekaltim, Samarinda — Anggota Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Sketsa Universitas Mulawarman (Unmul) Rahman menilai, pers mahasiswa saat ini terus berkembang seiring kemampuannya beradaptasi dengan perubahan cara masyarakat mengakses informasi melalui media sosial dan media digital.
Menurut Rahman, meskipun pers mahasiswa kini semakin aktif di ruang digital, mereka tidak meninggalkan produk jurnalistik cetak seperti majalah dan terbitan lainnya yang masih menjadi identitas pers kampus.
“Pers mahasiswa sudah mulai beradaptasi dengan media digital dan sosial media, tapi tetap tidak melupakan produk cetaknya,” ujar Rahman, Senin, 29 Desember 2025.
Ia juga menanggapi anggapan bahwa pers mahasiswa kerap dianggap belum sepenuhnya independen karena berada di bawah naungan kampus sebagai Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Namun, menurutnya hal tersebut bukan persoalan utama, melainkan bagian dari proses pembelajaran.
“Sebagai pers mahasiswa, ini bisa menjadi jalan awal bagi mahasiswa yang ingin berkarier sebagai wartawan di kemudian hari, karena kami sudah lebih dulu belajar bagaimana pers bekerja di lingkungan kampus,” jelasnya.
Rahman melihat pergerakan pers mahasiswa saat ini mengarah ke kondisi yang lebih baik. Soal idealisme, ia menilai bukan menjadi masalah selama pers mahasiswa tetap konsisten dalam menyampaikan kebenaran dan terbuka terhadap perkembangan era digital yang menuntut kecepatan informasi.
Ia mengakui, tantangan terbesar yang dihadapi pers mahasiswa hingga saat ini adalah adanya intervensi dari berbagai pihak terhadap pemberitaan, khususnya ketika berita yang diangkat dinilai kurang menguntungkan pihak tertentu.
“Tantangan ini bukan hal baru dan sudah cukup sering dirasakan oleh pers mahasiswa,” katanya.
Untuk menghadapi tantangan tersebut, Rahman menegaskan pentingnya menjaga nilai independensi dan menerapkan etika jurnalistik dalam setiap pemberitaan, terutama prinsip keberimbangan sebagai bentuk tanggung jawab pers mahasiswa.
Lebih lanjut, Rahman menilai relevansi pers mahasiswa dapat terus terjaga dengan sikap terbuka terhadap berbagai isu, termasuk isu-isu ringan yang dekat dengan kehidupan pembaca.
“Isu tidak harus selalu berat. Isu yang dekat dengan pembaca membuat pers mahasiswa tetap relevan, dengan tetap mengutamakan penyampaian yang sebenarnya tanpa menutup-nutupi kebenaran meskipun tidak selalu menyenangkan,” pungkasnya.
