Insitekaltim, Samarinda – Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) seiring meningkatnya titik panas dalam dua pekan terakhir. Seluruh posko pemadam kebakaran (damkar) disiagakan untuk mempercepat penanganan apabila terjadi kebakaran.
Wali Kota Samarinda Andi Harun mengatakan, skenario kesiapsiagaan telah disusun sejak munculnya potensi El Nino yang diperkirakan dapat memicu kemarau dan kekeringan panjang.
“Kita percaya terhadap data yang berbasis saintifik. Sudah diumumkan bahwa Indonesia sangat berpotensi berada dalam fase El Nino. Konsekuensinya adalah akan berada pada fase panjang mengalami kemarau dan kekeringan,” kata Andi Harun di Balai Kota Samarinda, Rabu, 9 September 2026.
Menurutnya, Samarinda menjadi salah satu daerah yang rentan terhadap dampak kekeringan. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan Pemkot Samarinda membentuk satuan tugas yang melibatkan sejumlah perangkat daerah untuk mengantisipasi berbagai dampak kemarau.
Khusus penanganan kebakaran semak kering dan karhutla, seluruh posko damkar dipastikan dalam kondisi siaga dengan dukungan tangki pemadam.
Pemkot Samarinda menetapkan standar waktu respons atau response time selama 10 menit untuk wilayah yang berada dalam jangkauan posko pemadam. Sementara untuk kawasan pinggiran kota, waktu respons ditetapkan maksimal 15 menit.
“Standar response time-nya itu 10 menit. Kalau dalam jarak tidak terlalu jauh, response time-nya itu 10 menit sudah sampai di TKP. Kalau berada dalam radius yang lumayan jauh di pinggiran kota, itu 15 menit,” jelasnya.
Andi Harun mengatakan, penanganan kebakaran juga didukung relawan, TNI dan Polri. Apabila kekuatan armada di posko tingkat kecamatan tidak mencukupi, Pemkot akan melakukan bantuan kendali operasi atau BKO dari posko kota.
Ia mengatakan pola tersebut telah diterapkan dalam sejumlah kejadian kebakaran lahan. Dalam beberapa kasus, petugas dapat tiba di lokasi dalam hitungan menit dan melakukan pemadaman hingga api berhasil dikendalikan dalam satu hingga dua jam.
Namun, peningkatan titik hotspot dalam dua pekan terakhir membuat Pemkot Samarinda memperkuat koordinasi dengan pemerintah pusat, termasuk Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
“Dua minggu terakhir ini ada eskalasi meningkat titik hotspot, titik api yang menyala. Sehingga kami melakukan kontak, koordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana Pusat,” ujarnya.
Pemkot juga menyiapkan skenario penggunaan water bombing dan modifikasi cuaca sebagai langkah tambahan apabila kondisi karhutla semakin meningkat.

