Insitekaltim, Samarinda – Wali Kota Samarinda Andi Harun mengajak umat Muslim memaknai Ramadan bukan sekadar sebagai kewajiban ritual, tetapi sebagai proses pembentukan kesadaran dan pengendalian diri.
Hal itu disampaikan Andi Harun dalam kegiatan Gema Ramadan Pemerintah Kota Samarinda di Balai Kota Samarinda Senin, 23 Februari 2026.
Dalam tausiyahnya, Andi Harun mengutip QS Al-Hujurat ayat 14. Ia menjelaskan perbedaan penggunaan kata “amanu” (beriman) dan “aslamu” (berserah diri atau masuk Islam). Ayat tersebut, menurutnya, menjadi teguran bagi sekelompok Arab Badui yang menyatakan telah beriman, padahal keimanan itu belum benar-benar meresap dalam hati mereka.
“Allah memerintahkan Nabi untuk menyampaikan bahwa mereka baru sebatas tunduk atau berislam, belum sampai pada derajat iman, karena iman itu belum masuk ke dalam qalbu,” jelasnya.
Ia menekankan bahwa dalam Al-Qur’an, panggilan kepada orang-orang beriman menunjukkan kedudukan istimewa sekaligus tanggung jawab yang besar. Dalam konteks puasa, Al-Qur’an menggunakan kata “kutiba” (diwajibkan), yang menurutnya mengandung makna perintah yang kokoh dan tertulis.
Lanjutnya, puasa sendiri bukan tradisi baru dalam Islam. Ia menyebutkan praktik puasa telah ada sejak umat-umat terdahulu, bahkan sebelum Ramadan diwajibkan pada tahun kedua hijrah. Tradisi itu menjadi sarana pensucian jiwa dari masa ke masa.
Tujuan utama puasa, kata Andi Harun adalah “la’allakum tattaqun” agar menjadi pribadi yang bertakwa. Namun, ia mengingatkan bahwa takwa bukan sekadar melaksanakan perintah dan menjauhi larangan secara formal.
“Akar kata takwa itu bermakna melindungi diri, membentengi diri, bersikap protektif terhadap hal-hal yang bisa melalaikan kita dari Allah,” ujarnya.
Menurutnya, puasa melatih setidaknya tiga lapisan kesadaran. Pertama, kesadaran ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Kedua, kesadaran atas keterbatasan diri, bahwa tidak semua keinginan harus dipenuhi. Ketiga, kesadaran untuk mengendalikan kehendak dan ego, tidak hanya selama Ramadan, tetapi juga setelahnya.
Ia menegaskan bahwa ketidakmampuan mengendalikan diri sering kali menjadi pintu masuk berbagai penyimpangan, termasuk tindakan yang merugikan diri sendiri dan keluarga.
“Keinginan yang tidak terkendali bisa menjerumuskan. Karena itu, puasa adalah latihan membangun perisai diri agar kita tidak lalai,” tegasnya.
Melalui Gema Ramadan ini, Pemerintah Kota Samarinda berharap nilai-nilai spiritual yang tumbuh selama bulan suci dapat terus terjaga dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.
