Insitekaltim, Samarinda – Dinas Sosial (Dinsos) Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) membangun budaya siaga bencana sejak bangku sekolah melalui program Tagana Masuk Sekolah (TMS).
Upaya tersebut dilakukan karena literasi kebencanaan dinilai perlu ditanamkan sejak dini agar siswa memiliki kesiapsiagaan dan mampu mengambil tindakan yang tepat saat menghadapi kondisi darurat.
Mewakili Kepala Dinsos Kaltim, Kepala Bidang Perlindungan dan Jaminan Sosial (Linjamsos) Achmad Rasyidi mengatakan, program TMS merupakan bagian dari upaya prabencana untuk mengenalkan manajemen penanggulangan bencana kepada peserta didik.
“Program ini bertujuan membentuk budaya sadar dan tanggap bencana di lingkungan satuan pendidikan, sekaligus memberikan pengetahuan praktis kepada siswa dan guru agar siap menghadapi situasi darurat,” ujarnya di Lapangan Sepak Bola Purwajaya, Samarinda, Rabu, 29 Juli 2026.
Menurut Rasyidi, edukasi kebencanaan sejak dini menjadi investasi jangka panjang dalam membangun masyarakat yang tangguh menghadapi berbagai potensi bencana.
Selain itu, kegiatan tersebut merupakan bentuk komitmen pemerintah dalam melindungi hak anak atas rasa aman, perlindungan dan keberlangsungan pendidikan.
“Siswa perlu memahami potensi bencana di lingkungan sekitarnya agar mampu mengambil keputusan yang tepat ketika menghadapi situasi darurat,” jelasnya.
Rasyidi menegaskan, edukasi kebencanaan tidak boleh hanya dilakukan ketika bencana telah terjadi. Sebaliknya, literasi kebencanaan harus menjadi bagian dari proses pembelajaran agar kesiapsiagaan tertanam sebagai budaya di lingkungan sekolah.
“Literasi bencana harus dimulai sejak di bangku sekolah agar anak-anak memahami langkah-langkah yang harus dilakukan secara spontan saat menangani ancaman bencana,” tegasnya.
Ia juga menekankan pentingnya simulasi kebencanaan yang dilakukan secara berkelanjutan melalui kolaborasi Dinsos, Taruna Siaga Bencana (Tagana) dan organisasi perangkat daerah terkait.
Latihan yang dilakukan secara rutin dinilai akan membentuk kebiasaan atau muscle memory, sehingga proses evakuasi dapat berlangsung lebih cepat dan tepat ketika kondisi darurat benar-benar terjadi.
Dalam program tersebut, personel Tagana membekali siswa dan guru dengan materi pemetaan jalur evakuasi sekolah, simulasi penyelamatan diri saat gempa bumi, banjir dan kebakaran, hingga pengenalan peralatan logistik kebencanaan.

