Insitekaltim, Samarinda – Fasilitas pemeriksaan HIV di Kalimantan Timur (Kaltim) belum dimanfaatkan secara maksimal. Laboratorium kesehatan milik pemerintah provinsi disebut memiliki peralatan yang dapat mendukung pemeriksaan HIV, tetapi hingga kini belum digunakan untuk layanan skrining penyakit tersebut.
Kondisi ini menjadi persoalan dalam upaya memperluas deteksi HIV di Kaltim. Padahal, keterlambatan menemukan kasus dapat membuat penanganan dan pencegahan penularan menjadi lebih sulit.
Saat ini, layanan skrining HIV sudah tersedia di puskesmas. Peralatan pemeriksaan disebut telah didistribusikan sehingga masyarakat tidak harus datang ke rumah sakit untuk mengetahui status HIV-nya.
Pemeriksaan dan obat bagi pasien juga diberikan secara gratis. Layanan di tingkat puskesmas membuat akses pemeriksaan menjadi lebih dekat, terutama bagi masyarakat yang selama ini terkendala jarak dan biaya menuju rumah sakit.
Namun, pemanfaatan fasilitas pemeriksaan HIV tetap dibatasi kewenangan. Skrining tidak dapat dilakukan sembarang tempat karena pemeriksaan berkaitan dengan kerahasiaan kondisi pasien dan stigma yang masih melekat terhadap orang dengan HIV.
“Yang boleh melakukan skrining adalah fasilitas kesehatan yang memang mendapatkan mandat untuk itu,” kata Ketua Pansus Ranperda Penanggulangan HIV/AIDS dan IMS DPRD Kaltim Darlis Pattalongi, Rabu, 16 September 2026.
Persoalan lain berada pada pemanfaatan fasilitas yang sudah tersedia. Laboratorium kesehatan milik Pemprov Kaltim disebut memiliki peralatan pemeriksaan, tetapi belum digunakan untuk skrining HIV karena tidak menjadi fasilitas yang menerima rujukan pemeriksaan tersebut.
“Di satu sisi kita teriak-teriak kekurangan fasilitas, tapi ada fasilitas kita yang tidak tergunakan semaksimal,” ujar Darlis.
Selain memperluas akses pemeriksaan, pencegahan HIV juga membutuhkan edukasi yang lebih luas. Pengetahuan masyarakat mengenai cara penularan HIV masih perlu diperkuat agar tidak melahirkan ketakutan yang keliru terhadap orang dengan HIV.
Kontak sosial sehari-hari seperti makan, berjalan, atau beraktivitas bersama orang dengan HIV tidak menjadi alasan untuk mengucilkan mereka. Penguatan informasi tersebut penting untuk menekan stigma yang dapat membuat orang enggan memeriksakan diri.

