Insitekaltim, Samarinda – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalimantan Timur (Kaltim) mulai menyiapkan pendekatan rehabilitasi dan rekonstruksi berbasis gender dalam penanganan masyarakat terdampak bencana. Langkah ini dilakukan agar proses pemulihan tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga menjawab kebutuhan setiap kelompok masyarakat secara lebih spesifik.
Kepala Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Kaltim Andik Wahyudi mengatakan, pihaknya tengah menjajaki penerapan pengarusutamaan gender dalam proses rehabilitasi pascabencana.
Melalui pendekatan tersebut, data korban akan dipilah berdasarkan jenis kelamin, kelompok usia, hingga tingkat kerentanan sehingga penanganan dapat disesuaikan.
“Selama ini belum ada data yang benar-benar memisahkan berapa laki-laki yang terdampak, kemudian kelompok rentan, usia produktif, yang masih sekolah, maupun balita. Ke depan itu akan kami pilah karena penanganannya juga berbeda-beda,” ujarnya di Samarinda, Jumat, 24 Juli 2026.
Menurutnya, tantangan rehabilitasi pascabencana tidak hanya berkaitan dengan kewenangan antarinstansi, tetapi juga tingginya harapan masyarakat agar pemulihan dilakukan secara menyeluruh, baik terhadap kerusakan bangunan maupun kondisi psikologis korban.
Karena itu, BPBD Kaltim mulai memperkuat pendekatan psikososial dalam proses rehabilitasi. Andik menilai pemulihan mental masyarakat menjadi fondasi penting agar proses pembangunan kembali dapat berjalan lebih efektif.
“Saat ini kami melakukan pendekatan kepada masyarakat terdampak dari sisi psikis. Kalau kondisi psikologisnya sudah terbangun dengan baik dan pola pikirnya positif, insyaallah pemulihan infrastruktur maupun bangunannya juga bisa berjalan,” jelasnya.
Ia mengingatkan bahwa dampak psikologis yang tidak tertangani dapat berkembang menjadi persoalan yang lebih luas.
“Yang kita hindari adalah dampak psikis yang berkelanjutan karena itu bisa menimbulkan bencana yang lebih masif, yaitu bencana sosial,” tegasnya.
Di sisi lain, Andik memastikan Kaltim saat ini masih berstatus siaga darurat bencana hidrometeorologi kering. Meski dalam dua hari terakhir Kota Samarinda diguyur hujan, kondisi tersebut hanya merupakan anomali cuaca dan tidak mengubah kondisi musim kering secara umum.
Ia menjelaskan, kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) saat ini paling banyak terjadi di Kabupaten Paser, Berau, Kutai Kartanegara dan Kutai Barat. Namun, secara keseluruhan kondisi masih terkendali.
“Alhamdulillah secara kesiapsiagaan masih masuk kategori aman karena sampai saat ini kejadian karhutla masih dalam kondisi terkendali,” ungkapnya.
Ia menambahkan, berdasarkan prakiraan BMKG, fase hidrometeorologi kering diperkirakan berlangsung hingga akhir Agustus atau awal September. Namun, karakteristik Kaltim yang berada di wilayah khatulistiwa membuat perubahan cuaca kerap sulit diprediksi.
“Kita berada di jalur khatulistiwa, sehingga kadang tanpa prediksi tiba-tiba hujan, lalu panas lagi. Itu memang karakteristik wilayah kita,” tutupnya.

