Insitekaltim, Samarinda – Bank Sampah Unit (BSU) Kejujuran, yang sempat menjadi kebanggaan warga saat didirikan pada tahun 2021, kini diakui tengah mengalami penurunan ritme operasional.

Direktur Bank Sampah Unit Kejujuran Purwanto menyebut, kondisi saat ini sebagai fase jalan lambat. Purwanto mengenang bagaimana awal berdirinya bank sampah ini dipenuhi optimisme tinggi.

Saat itu, dukungan penuh dari kepengurusan RT sebelumnya berhasil membakar semangat warga untuk aktif memilah sampah dari dapur masing-masing. Namun, seiring berjalannya waktu dan transisi kepemimpinan, euforia tersebut perlahan meredup.
“Kalau yang awal-awal tahun 2021 itu memang semangat semuanya karena dukungan penuh Pak RT saat itu. Sekarang kondisinya jalan lambat. Bukan jalan di tempat, tapi memang perlu digenjot lagi motivasinya,” ujar Purwanto saat ditemui Senin, 16 Februari 2026.
Menurut Purwanto, kendala utama yang dihadapi bukan terletak pada akses ke Bank Sampah Induk, melainkan pada konsistensi suplai bahan baku dari warga.
Ia mengakui bahwa membangun kebiasaan memilah sampah anorganik seperti plastik, besi, dan tembaga membutuhkan ketelatenan yang luar biasa di tengah kesibukan rumah tangga.
Selain itu, adanya tantangan psikologis terkait nilai ekonomi sampah. Banyak warga yang merasa enggan memilah, karena keuntungan finansial yang dianggap tidak sebanding dengan repotnya proses pemilahan.
“Saya pernah mencoba menghitung sendiri, satu dus gelas plastik itu setelah dikumpulkan ternyata hanya seberat satu ons. Mungkin di sini warga merasa, ah cuma seribu rupiah saja kok susah benar’. Padahal, jika dikumpulkan kolektif dari seluruh RT, nilainya sangat signifikan,” jelasnya.
Selain itu, masalah teknis seperti bau dari sampah organik (komposter) dan keterbatasan lahan di rumah-rumah warga seringkali menjadi alasan klasik yang membuat warga akhirnya memilih untuk mencampur kembali sampah mereka ke dalam satu kantong plastik.
Tak ingin berlarut dalam kelesuan, Purwanto telah merancang sejumlah strategi untuk menghidupkan kembali gairah memilah sampah. Salah satu rencana inovatif yang sedang dipersiapkan adalah pengadaan wadah sampah khusus berbentuk rajutan atau jaring-jaring besar.
Rencananya, wadah ini akan ditempatkan di titik-titik strategis pinggir jalan dengan label yang jelas, seperti “Khusus Botol Plastik” atau “Khusus Kaleng”. Dengan wadah yang transparan (jaring), diharapkan warga maupun masyarakat yang sedang berolahraga di kawasan Bengkuring lebih tertarik untuk membuang botol minuman mereka ke tempat yang tepat.
“Saya punya rencana membuat kantong jaring seperti wadah bola basket tapi ukuran besar. Ini memudahkan orang yang lewat atau anak-anak yang minum sambil jalan untuk langsung memisahkan sampahnya. Tapi memang ini masih terkendala koordinasi anggaran prasarana,” tambahnya.
Momentum bulan suci Ramadhan juga akan dimanfaatkan Purwanto sebagai ajang edukasi massal. Ia berencana menggandeng Ikatan Remaja Masjid (IRMA) dan anak-anak usia sekolah untuk menjadi pionir kebersihan di masjid.
“Bulan puasa biasanya sampah plastik dari minuman takjil itu banyak sekali. Nanti saya akan koordinasi dengan Pak RT agar sampah di masjid bisa langsung dipisahkan di tempat,” tuturnya.
Sebagai wilayah yang memiliki tugu ikonik Kampung Salai yang ditandatangani langsung oleh Wali Kota Samarinda, Purwanto merasa memiliki beban moral untuk menjaga predikat tersebut. Ia tidak ingin semangat warga terus menurun di saat infrastruktur lingkungan sudah mulai tertata.
Purwanto berharap sinergi dengan kelompok Dasa wisma dan pengurus RT bisa dipererat kembali. Ia juga mendorong agar warga terlibat dalam pembuatan alat pendukung secara mandiri, seperti membuat rajutan kantong sampah sendiri agar ada nilai ekonomi tambahan yang dirasakan langsung oleh mereka.
“Harapan saya, kita kembali bergerak bersama. Pengelolaan sampah ini tidak bisa dilakukan sendiri oleh direktur atau pengurus saja. Butuh dorongan ekstra dari Pak RT untuk terus memotivasi warga, agar Bank Sampah Kejujuran ini kembali berlari, bukan lagi sekadar jalan lambat,” pungkasnya.

