Insitekaltim, Samarinda – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang sempat menyelimuti sejumlah wilayah Kalimantan Timur (Kaltim) belum benar-benar hilang. Meski kondisi udara di permukaan terlihat membaik saat tutupan awan terbuka, partikel asap disebut masih tertahan di lapisan atmosfer dan berpotensi kembali turun ke permukaan.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kaltim Buyung Dodi Gunawan mengatakan, kondisi tersebut dipengaruhi kemarau panjang yang membuat Kaltim telah mengalami lebih dari 30 hari tanpa hujan, ditambah kebakaran yang berlangsung sejak Agustus.
“Asapnya itu tidak ke mana-mana. Ada di lapisan tertentu di atmosfer yang mungkin sebagian mengalir, tapi juga berakumulasi di atmosfer saja,” kata Buyung, Selasa 22 September 2026.
Kondisi tersebut menjelaskan mengapa kabut asap dapat kembali terlihat meski aktivitas kebakaran di sekitar perkotaan sedang menurun. Fenomena awan inversi juga sempat membuat partikel asap yang berada di atmosfer turun mendekati permukaan.
Kondisi itu terjadi sekitar 15 hingga 19 September ketika tutupan awan merata menghalangi intensitas sinar matahari mencapai permukaan bumi. Akibatnya, asap yang sebelumnya berada di lapisan atmosfer terdorong turun.
“Jadi bukan karena pada saat itu kebakaran yang ada di wilayah Samarinda atau sekitar situ dekat perkotaan, tapi akibat turunnya asap yang ada di atmosfer,” ujarnya.
Ketika tutupan awan kembali terbuka dan sinar matahari masuk, asap dapat naik kembali sehingga secara visual udara terlihat lebih bersih. Namun, kondisi tersebut bukan berarti partikel asap telah hilang.
“Asap tersebut bukan berarti hilang, masih ada di atmosfer dan dia bisa jadi turun,” jelasnya.
Kondisi ini membuat masyarakat tetap perlu mewaspadai perubahan kualitas udara, terutama pada pagi hari ketika asap kembali turun ke permukaan. Buyung menyebut jarak pandang di kawasan Bandara APT Pranoto Samarinda bahkan pernah berada di bawah 500 meter.
Dampaknya tidak hanya dirasakan masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan. Kabut asap sebelumnya sempat mengganggu penerbangan hingga kegiatan pendidikan dan aktivitas masyarakat lainnya.
“Dampak asap tersebut memang akan menjadi multidimensi. Nanti kemudian masuk ke pasar, gangguan terhadap kegiatan-kegiatan kita semua. Ini yang berbahayanya dari efek karhutla yang menjadikan asap itu tidak ke mana-mana,” tuturnya.
BPBD Kaltim mencatat bahwa hujan menjadi salah satu faktor penting untuk membersihkan partikel asap yang masih berada di atmosfer. Namun, hujan dengan intensitas ringan atau hanya terjadi dalam waktu singkat belum tentu cukup untuk menghilangkan akumulasi asap.
“Kalau yang bisa menyebabkan asap itu benar-benar hilang, kita harus menunggu musim hujan atau hujan yang cukup masif dan tidak bisa dalam 10 hari,” terang Buyung.
Dengan perkiraan musim hujan yang baru mulai aktif sekitar akhir Oktober, masyarakat diminta tetap waspada terhadap potensi munculnya kembali kabut asap selama periode kemarau masih berlangsung.
BPBD juga mengingatkan masyarakat menjaga kesehatan, terutama kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia yang berisiko mengalami gangguan pernapasan ketika kualitas udara memburuk.
“Selama belum musim hujan, asap itu masih ada dan tolong masyarakat menjaga dengan menggunakan masker, terutama apabila terlihat bahwa asap itu masih cukup banyak atau cukup pekat,” pungkasnya.

