Insitekaltim, Samarinda – Sumur bor kerap menjadi pilihan ketika sumber air permukaan menyusut saat musim kemarau. Ketika kebutuhan air bersih meningkat sementara pasokan terbatas, air tanah dianggap sebagai cadangan yang relatif mudah diakses.
Namun, air yang keluar dari dalam tanah tidak otomatis berarti aman digunakan untuk kebutuhan rumah tangga. Sejumlah penelitian Universitas Mulawarman menunjukkan kualitas air tanah di Kalimantan Timur berbeda-beda antarwilayah dan tetap membutuhkan pemeriksaan sebelum digunakan, terutama untuk kebutuhan higiene dan sanitasi.
Salah satu penelitian Universitas Mulawarman (Unmul) yang diterbitkan dalam Jurnal Kimia Mulawarman pada 2020 menguji kualitas air sumur bor pemerintah dan sumur bor masyarakat di kawasan pesisir Kecamatan Marangkayu, Kabupaten Kutai Kartanegara.
Penelitian tersebut menemukan, secara umum parameter yang diuji pada air sumur bor pemerintah maupun masyarakat memenuhi standar yang digunakan saat penelitian, tetapi terdapat persoalan pada aspek mikrobiologi. Kandungan Escherichia coli (E. coli) dan Total Coliform ditemukan cukup tinggi dan melampaui standar dalam hasil pemeriksaan laboratorium.
Temuan itu menunjukkan bahwa air tanah yang secara fisik terlihat jernih belum tentu bebas dari kontaminasi mikrobiologis. Peneliti juga mencatat kondisi lingkungan di sekitar sumur turut memengaruhi kualitas air yang dihasilkan.
Kondisi geologi ikut menentukan
Kualitas air tanah juga tidak dapat dilepaskan dari kondisi geologi tempat sumur dibuat.
Penelitian Unmul mengenai kondisi geologi dan kualitas air tanah di wilayah Lempake dan sekitarnya, Samarinda Utara, menemukan adanya hubungan antara jenis batuan penyusun dengan kualitas air tanah. Sumur yang berada pada wilayah dengan dominasi batulempung cenderung memiliki kualitas lebih buruk, sedangkan sumur pada wilayah yang didominasi batupasir menunjukkan kualitas yang lebih baik.
Artinya, membuat sumur bor tidak cukup hanya dengan menentukan titik yang memiliki air tanah. Karakteristik lapisan bawah tanah juga perlu dipahami agar pengeboran tidak sekadar menghasilkan air, tetapi menghasilkan sumber air yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Persoalan serupa terlihat dalam penelitian kualitas air tanah di kawasan Bukit Batu Putih, Samarinda. Penelitian Unmul yang menguji kekeruhan, TDS, pH dan zat organik menyimpulkan air tanah di wilayah tersebut masih kurang layak untuk diminum atau digunakan tanpa pengolahan yang lebih baik.
Air bor untuk warga tidak cukup hanya diuji secara kasatmata
Karakteristik air tanah membuat pemeriksaan laboratorium menjadi penting. Air yang tidak berwarna, tidak berbau atau terlihat jernih belum dapat dijadikan indikator tunggal bahwa air tersebut aman.
Dalam aturan kesehatan lingkungan yang berlaku, air untuk keperluan higiene dan sanitasi memiliki sejumlah parameter yang harus diperhatikan. Permenkes Nomor 2 Tahun 2023 menetapkan, antara lain, E. coli dan Total Coliform harus 0 CFU/100 ml, sementara pH berada pada rentang 6,5–8,5. Parameter lain yang diatur mencakup TDS, kekeruhan, warna, bau, nitrat, nitrit, kromium, besi dan mangan.
Karena itu, pembangunan sumur bor sebagai solusi kekeringan seharusnya tidak berhenti pada persoalan apakah air tanah tersedia atau tidak. Setelah pengeboran, kualitas air perlu diperiksa untuk menentukan peruntukannya.
Hal ini menjadi semakin penting ketika sumur dibangun untuk digunakan bersama oleh masyarakat dalam jumlah besar. Sumber kontaminasi di sekitar lokasi, kondisi konstruksi sumur, sanitasi lingkungan dan jarak dengan sumber pencemar dapat memengaruhi kualitas air tanah.
Penelitian Unmul juga menunjukkan masalah mikrobiologi
Penelitian lain Unmul di Kelurahan Sempaja Selatan, Samarinda, memberikan gambaran serupa. Dari enam sumur yang menjadi sampel penelitian, parameter TSS masih berada di bawah baku mutu. Namun, sejumlah sampel menunjukkan persoalan pada pH, besi, mangan dan kesadahan.
Yang lebih penting, seluruh sumur sampel memiliki hasil Fecal Coli di atas baku mutu. Dengan metode Storet, kualitas air tanah di lokasi penelitian diklasifikasikan sebagai Kelas B atau tercemar ringan.
Temuan tersebut menjadi pengingat bahwa persoalan air tanah bukan hanya soal kedalaman pengeboran. Kontaminasi dapat berkaitan dengan kondisi lingkungan dan sanitasi di sekitar sumber air.
Bahkan, Unmul juga memiliki penelitian mengenai pengolahan air sumur yang mengandung besi dan mangan. Salah satu penelitian di Sempaja Selatan menemukan kadar besi 2,3 mg/L dan mangan 0,4 mg/L pada sampel air sumur yang diuji, sehingga diperlukan pengolahan menggunakan metode aerasi untuk menurunkan kandungan tersebut.
Sumur bor bisa menjadi solusi, tetapi bukan berarti tanpa syarat
Kebutuhan air bersih memang membuat sumur bor menjadi salah satu pilihan penting, terutama di wilayah yang mengalami keterbatasan air permukaan saat kemarau.
Unmul sendiri pernah melakukan penyelidikan pendahuluan sumber air tanah di Kelurahan Tanah Merah, Samarinda Utara. Penelitian tersebut menggunakan metode geolistrik resistivitas untuk membantu menentukan keberadaan sumber air tanah sebelum pengeboran dilakukan. Peneliti menilai informasi awal semacam itu penting karena biaya pengeboran tidak murah dan pengeboran seharusnya tidak dilakukan tanpa informasi mengenai potensi sumber air bawah tanah.
Di sisi lain, Unmul memiliki Laboratorium Kualitas Air Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan yang dapat menguji berbagai parameter fisika, kimia, logam berat dan biologi. Laboratorium tersebut menyebut memiliki kemampuan pengujian hingga 49 variabel dan telah menerapkan sistem manajemen mutu SNI ISO/IEC 17025.
Dengan demikian, sumur bor dapat menjadi bagian dari solusi krisis air, tetapi pembangunan infrastrukturnya perlu diikuti tiga tahapan penting: menentukan potensi sumber air, membangun sumur dengan konstruksi yang aman, dan menguji kualitas air sebelum menentukan peruntukannya.
Terlebih jika sumur bor dibangun menggunakan anggaran publik dan ditujukan untuk memenuhi kebutuhan banyak warga. Pemerintah tidak cukup memastikan airnya keluar. Yang perlu dipastikan adalah air tersebut aman digunakan untuk apa, memenuhi parameter kesehatan atau tidak, dan bagaimana kualitasnya dipantau setelah sumur digunakan.

