Insitekaltim, Samarinda – Air menjadi kebutuhan yang paling terasa ketika kemarau datang. Saat sumber air mulai menyusut, perhatian biasanya tertuju pada satu pertanyaan apakah persediaannya masih cukup?
Padahal ada persoalan lain yang tidak kalah penting. Air yang masih tersedia belum tentu aman untuk diminum. Kondisi sumber air, cara pengolahan, penyimpanan hingga kebiasaan mengambil air di rumah ikut menentukan apakah air tersebut benar-benar layak dikonsumsi. Jika salah satu tahapan diabaikan, air yang semula aman dapat kembali tercemar sebelum masuk ke tubuh.
Risiko inilah yang perlu diperhatikan masyarakat Kalimantan Timur selama musim kemarau. Air yang tercemar dapat menjadi media penularan berbagai penyakit.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut kontaminasi mikroba pada air minum sebagai salah satu risiko terbesar terhadap keamanan air. Air yang terkontaminasi dapat menularkan penyakit seperti diare, disentri dan tifoid.
Tifoid misalnya, umumnya menyebar melalui makanan atau air yang terkontaminasi bakteri Salmonella Typhi. WHO juga mencatat risiko penyakit tersebut lebih tinggi pada masyarakat yang tidak memiliki akses memadai terhadap air aman dan sanitasi.
Karena itu, persoalan air pada musim kemarau seharusnya tidak berhenti pada bagaimana mendapatkan air, tetapi juga bagaimana memastikan air tersebut tetap aman sampai dikonsumsi.
Air tidak cukup hanya terlihat jernih
Masyarakat kerap menggunakan kondisi fisik air sebagai patokan sederhana. Padahal, air yang tampak jernih belum otomatis bebas dari kontaminasi mikrobiologis.
Sebaliknya, perubahan warna, bau atau rasa menjadi tanda yang patut dicermati. Jika karakter air berubah dari kondisi biasanya, masyarakat perlu berhati-hati dan tidak langsung menggunakannya untuk konsumsi.
Kepala Dinas Kesehatan Kalimantan Timur (Kaltim) Jaya Mualimin mengingatkan masyarakat menggunakan sumber air yang aman dan tidak tercemar untuk kebutuhan konsumsi sehari-hari.
Peringatan itu menjadi relevan karena keamanan air tidak hanya ditentukan oleh sumbernya. Air yang telah diambil masih harus melalui proses pengolahan dan penyimpanan yang benar.
Dinkes menyarankan air diolah sebelum diminum, salah satunya dengan merebus hingga benar-benar mendidih. Tujuannya untuk membunuh bakteri yang mungkin terdapat di dalam air.
Sudah direbus, masih bisa tercemar
Air yang sudah aman setelah diolah dapat kembali terkontaminasi ketika disimpan atau diambil secara tidak higienis. Wadah penyimpanan yang kotor, terbuka, atau tidak sesuai untuk menyimpan bahan pangan dapat menjadi titik masuk pencemar..
Begitu pula tangan atau peralatan yang digunakan untuk mengambil air. Jaya mengingatkan bagian ini sering kali luput dari perhatian.
“Ambil air secara higienis, yakni dengan selalu memastikan tangan dan peralatan yang digunakan dalam keadaan bersih saat menyentuh air minum,” ujarnya.
Artinya, keamanan air tidak hanya bergantung pada proses memasak. Kebiasaan setelah air selesai diolah juga menentukan.
Air sebaiknya ditempatkan dalam wadah bersih dan tertutup. Ketika hendak digunakan, tangan maupun alat yang bersentuhan dengan air juga harus bersih. Prinsipnya jangan sampai air yang sudah dibuat aman kembali tercemar karena cara penyimpanannya.
Sumber air juga perlu dijaga
Persoalan berikutnya berada di luar wadah penyimpanan, yakni sumber air itu sendiri. Menjaga kebersihan lingkungan sekitar sumber air menjadi bagian dari upaya mencegah pencemaran. Jika sumber air sudah tercemar, masyarakat akan menghadapi risiko sejak awal sebelum air sampai ke rumah.
Karena itu, Dinkes Kaltim juga meminta masyarakat bersama-sama menjaga kebersihan sumber air di sekitar tempat tinggal.
“Keenam, lindungi keluarga dan lingkungan dengan secara disiplin bersama-sama menjaga kebersihan sumber air yang ada di sekitar tempat tinggal,” kata Jaya.
Pendekatan seperti ini sejalan dengan panduan WHO yang menempatkan keamanan air sebagai proses yang perlu dikelola dari sumber hingga sampai kepada konsumen, bukan hanya diperiksa ketika air sudah berada di dalam rumah.
Kemarau menguji kebiasaan rumah tangga
Di tengah kemarau, masyarakat mungkin tidak memiliki banyak pilihan ketika sumber air utama berkurang. Tetapi keterbatasan pilihan bukan berarti keamanan air bisa diabaikan.
Ada beberapa hal sederhana yang dapat menjadi pemeriksaan sebelum air diminum dari mana air berasal, apakah perlu diolah, bagaimana air disimpan, apakah wadahnya bersih, dan apakah terdapat perubahan warna, bau atau rasa.
Jika kualitas air diragukan, jangan menganggapnya aman hanya karena terlihat bersih. Sebab persoalan air tidak berhenti ketika air berhasil didapatkan. Air baru benar-benar menjadi kebutuhan yang aman ketika kualitasnya terjaga sampai dikonsumsi.

