Insitekaltim, Samarinda – Upaya menjaga ketersediaan pangan di tengah keterbatasan lahan perkotaan menunjukkan hasil positif pada produksi padi Kota Samarinda.
Sepanjang 2025, produksi padi tercatat mencapai 11.469 ton atau meningkat 23,58 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Capaian tersebut menjadi modal penting bagi penguatan sektor pertanian daerah, meskipun sejumlah komoditas sayuran dan buah-buahan masih mengalami penurunan produksi.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Samarinda, produksi padi pada 2025 mencapai 11.469 ton dengan luas panen sekitar 2.769 hektare. Jumlah tersebut meningkat dari produksi 2024 yang tercatat sebesar 9.280,84 ton.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Distapangtani) Kota Samarinda, Muhammad Darham, mengatakan peningkatan ini perlu dipertahankan melalui penguatan produktivitas dan optimalisasi potensi pertanian lokal.
“Peningkatan produksi padi ini merupakan capaian positif yang perlu kita jaga. Kami terus mendorong agar potensi lahan pertanian yang tersedia dapat dimanfaatkan secara optimal untuk mendukung ketersediaan pangan masyarakat,” Ungkapnya saat di konfirmasi awak media. Kamis, 5 November 2026.
Kendati demikian, Darham menyebutkan perkembangan berbeda terlihat pada subsektor hortikultura. Produksi cabai keriting turun dari 1.050,68 kuintal pada 2024 menjadi 434,06 kuintal pada 2025, sedangkan cabai rawit berkurang dari 1.299 menjadi 634,87 kuintal.
Produksi tomat juga mengalami penurunan dari 2.630,10 menjadi 849,45 kuintal dan bayam dari 2.218,15 menjadi 2.171,03 kuintal.
Hanya cabai besar yang meningkat dari 354,67 menjadi 402,90 kuintal, sementara bawang merah dan jamur tidak mencatatkan produksi.
Penurunan turut terjadi pada komoditas buah-buahan, terutama pepaya yang turun dari 111.325,09 menjadi 38.730,21 kuintal, meski masih menjadi buah dengan produksi terbesar. Sebaliknya, produksi nanas meningkat dari 651,11 menjadi 1.045,14 kuintal.
“Setiap komoditas memiliki tantangan dan potensi yang berbeda. Karena itu, pengembangan hortikultura perlu terus diperhatikan agar produksi petani lokal dapat meningkat dan lebih mampu memenuhi kebutuhan pasar,” Jelas Darham.
Sementara pada subsektor perkebunan, kelapa sawit masih menjadi komoditas utama dengan luas tanam 1.216,45 hektare dan produksi 13.966,91 ton.
Meski demikian, angka tersebut masih lebih rendah dibandingkan produksi 2023 yang mencapai 15.101,84 ton. Darham menilai sektor pertanian dan perikanan perlu terus diperkuat sesuai karakteristik dan potensi wilayah.
“Kita memiliki potensi di sektor tanaman pangan, hortikultura, perikanan, maupun perkebunan. Pengembangannya perlu dilakukan secara berkelanjutan agar masing-masing subsektor dapat memberikan kontribusi bagi perekonomian dan ketahanan pangan daerah,” Pungkasnya. (ADV)

