Insitekaltim, Kutim – Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Pemprov Kaltim) memastikan kelancaran pasokan batu bara untuk kebutuhan pembangkit listrik nasional sekaligus mempercepat penyelesaian infrastruktur jalan di wilayah pesisir. Dua hal tersebut menjadi perhatian Gubernur Kaltim Rudi Mas’ud saat meninjau kawasan operasional PT Ganda Alam Makmur (GAM) dan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Maloy di Kabupaten Kutai Timur.
Dalam peninjauan di area operasional PT GAM, Kecamatan Kaliorang, Rudi memastikan produksi dan penyaluran batu bara dari perusahaan tersebut berjalan lancar. Pasokan batu bara itu diarahkan untuk memenuhi kewajiban Domestic Market Obligation (DMO), terutama kebutuhan bahan bakar Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) milik PLN.
Menurutnya, batu bara yang diproduksi PT GAM memiliki karakteristik yang sesuai dengan kebutuhan PLN. Pasokannya tidak hanya diperuntukkan bagi wilayah Kalimantan, tetapi juga Sulawesi hingga sejumlah daerah lain di Indonesia.
“Kita memastikan bahwa terkait batu bara ini tidak ada masalah. Kebetulan batu bara dari sini cocok untuk PLN dan dikontribusikan untuk DMO, tidak hanya bagi masyarakat Kalimantan tetapi juga Sulawesi dan seluruh Indonesia,” ujarnya.
Selain memastikan pasokan energi, Pemprov Kaltim juga menerima pembahasan terkait permohonan izin penggunaan jalan provinsi untuk mendukung kegiatan operasional dan eksplorasi PT GAM.
Rudi menyebut, permohonan tersebut perlu melalui kajian teknis dan komprehensif sebelum pemerintah mengambil keputusan. Kajian akan melibatkan Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Dinas Lingkungan Hidup (DLH), serta pihak perusahaan.
“Kita perlu kajian dari ESDM, Lingkungan Hidup, serta kajian dari PT Ganda Alam Makmur sendiri seberapa besar manfaat yang diberikan bagi masyarakat di sekitar Kutai Timur ini,” terangnya.
Di sisi lain, penguatan infrastruktur pendukung KEK Maloy mulai menunjukkan perkembangan. Instalasi Pengolahan Air (IPA) Maloy yang sempat tidak beroperasi sejak dibangun pada 2018 hingga awal 2024 kini telah kembali berfungsi.
Instalasi tersebut saat ini mendistribusikan sekitar 3.000 meter kubik air bersih per hari untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di Kecamatan Sangkulirang dan Kaliorang, terutama di tengah musim kemarau.
Kapasitas pengolahan air baku itu ke depan ditargetkan meningkat hingga 720 meter kubik per jam atau setara 15.000 meter kubik per hari. Ketersediaan air bersih dan listrik diharapkan dapat memperkuat daya tarik KEK Maloy bagi investor, khususnya industri pengolahan minyak kelapa sawit mentah (CPO) dan gasifikasi.
Sementara itu, penanganan jalan pesisir yang menghubungkan Samarinda, Kutai Kartanegara, Kutai Timur, hingga Berau diklaim telah mencapai sekitar 95 persen. Pemprov Kaltim menargetkan seluruh jalur tersebut terkoneksi dengan kondisi jalan yang lebih baik pada akhir 2026 atau awal 2027.
Perbaikan infrastruktur juga direncanakan berlanjut ke kawasan pesisir selatan hingga Balikpapan.
Setelah dari Kutai Timur, rombongan gubernur dijadwalkan melanjutkan kunjungan ke Kutai Barat, Mahakam Ulu, hingga wilayah perbatasan Malinau. Agenda tersebut turut mencakup dukungan terhadap percepatan Proyek Strategis Nasional (PSN) PLTA Batu Kelau berkapasitas 350 megawatt (MW) untuk membantu mengatasi defisit listrik di Kalimantan Timur.

