Insitekaltim, Samarinda – Durasi musim hujan di Kalimantan Timur (Kaltim) pada 2026–2027 diprediksi lebih pendek di tengah fenomena El Nino yang masih berlangsung hingga 2027. Kondisi ini berpotensi memengaruhi sektor pertanian serta meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi, sehingga diperlukan penyesuaian perencanaan dan kesiapsiagaan sejak dini.
Kepala Stasiun Meteorologi Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Sepinggan Balikpapan Djoko Sumardiono mengatakan, kuatnya fenomena El Nino tahun ini ditunjukkan oleh indeks yang tercatat mencapai 3,44 pada 3 September 2026. Sementara itu, indeks bulanan berada di angka 2,77.
“Dampaknya sudah bisa kita rasakan sendiri. Musim kemarau di Kalimantan Timur berlangsung lama. Namun, ini bukan berarti El Nino akan segera berakhir,” ujarnya dalam pemaparan prakiraan musim hujan 2026–2027 di Kaltim secara virtual, Senin, 12 Oktober 2026.
Djoko menjelaskan, berdasarkan prediksi 17 badan dunia yang memperhitungkan perkembangan El Nino, fenomena tersebut diperkirakan masih berlangsung hingga 2027. Kondisi ini diprediksi mulai kembali menuju normal pada pertengahan tahun depan, sekitar Mei hingga Juli.
Dampak kondisi iklim tersebut perlu diperhitungkan dalam berbagai sektor, terutama pertanian. Durasi musim hujan yang lebih singkat menuntut petani menyesuaikan kalender tanam agar kegiatan pertanian tetap berjalan sesuai kondisi cuaca dan ketersediaan air.
“Kalau musim hujan hanya berlangsung sekitar tiga sampai empat bulan, perlu mempertimbangkan jenis tanaman yang sesuai untuk ditanam. Oleh karena itu, informasi awal musim hujan ini penting sebagai dasar perencanaan,” jelasnya.
Berdasarkan prakiraan BMKG, musim hujan 2026–2027 di Kaltim secara umum diprediksi memiliki sifat hujan dalam kategori normal, meskipun durasinya lebih pendek. Sebagian wilayah juga diperkirakan mengalami pergeseran waktu awal musim hujan.
Selain pertanian, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian dalam upaya mengantisipasi bencana hidrometeorologi. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) bersama instansi terkait diharapkan memperkuat kesiapsiagaan serta meningkatkan penyebaran informasi kebencanaan kepada masyarakat.
Djoko mengingatkan, potensi bencana yang perlu diwaspadai mencakup banjir, tanah longsor, banjir bandang, hingga banjir rob di kawasan pesisir. Pada masa peralihan dari kemarau menuju hujan, angin kencang juga berpotensi terjadi.
Perubahan pola pergerakan massa udara dari Monsun Australia menuju Monsun Asia turut memengaruhi kondisi cuaca dan waktu dimulainya musim hujan di sejumlah wilayah.
Karena itu, masyarakat dan pemangku kepentingan diminta menjadikan informasi prakiraan cuaca dan iklim sebagai dasar pengambilan keputusan. Langkah antisipasi perlu disesuaikan dengan kondisi wilayah masing-masing agar dampak perubahan musim dapat diminimalkan.
“Informasi yang dikeluarkan BMKG, terutama terkait awal musim hujan dan musim kemarau, perlu menjadi perhatian bersama untuk menyusun perencanaan dan mengambil keputusan di berbagai sektor,” tutupnya.

