Jalan Sedikit Sudah Tersengal? Waspadai Tanda Gagal Jantung
Insitekaltim, Samarinda – Sesak napas saat melakukan aktivitas ringan kerap dianggap sebagai kondisi biasa, terutama pada orang lanjut usia. Padahal, keluhan seperti terengah-engah hanya karena berjalan menuju kamar mandi dapat menjadi salah satu tanda gagal jantung yang perlu diperiksa.
Direktur RSUD IA Moeis Samarinda Osa Rafshodia mengatakan, pasien yang menunjukkan tanda-tanda gagal jantung maupun telah terdiagnosis akan diarahkan ke Klinik Gagal Jantung, bukan lagi menjalani antrean di poli jantung umum.
“Sesak napas. Berdiri sesak napas, jalan kaki sesak napas, ke kamar mandi saja sesak napas. Berat napasnya terengah-engah seperti habis lari dua kilometer, padahal jalannya cuma ke kamar mandi,” kata Osa.
Menurutnya, gejala tersebut patut diperhatikan terutama pada masyarakat berusia sekitar 55 tahun ke atas. Pemeriksaan lebih lanjut diperlukan untuk memastikan apakah keluhan yang muncul berkaitan dengan gangguan jantung.
“Kalau kelihatannya jalan sedikit saja sudah tersengal-sengal, jangan-jangan gagal jantung. Suruh periksa,” ujarnya.
Klinik Gagal Jantung di RSUD IA Moeis disiapkan dengan pola layanan yang lebih spesifik bagi pasien gagal jantung. Pasien tidak perlu bercampur dalam antrean dengan pasien jantung lainnya sehingga akses pemeriksaan dapat lebih cepat.
Selain jalur layanan khusus, klinik tersebut didukung sejumlah perangkat medis yang diberikan Kementerian Kesehatan, termasuk alat echocardiography atau echo untuk membantu pemeriksaan kondisi jantung dan Holter untuk pemantauan aktivitas jantung.
“Alatnya sudah ada, kliniknya kita buat,” tutur Osa.
Layanan tersebut juga dilengkapi telemedicine. Pasien yang telah terdaftar dapat berkomunikasi dengan tenaga medis dan tercatat sebagai pasien gagal jantung. Data tersebut diharapkan membantu rumah sakit mempersiapkan penanganan apabila pasien mengalami kondisi gawat darurat.
“Bila ada kegawatdaruratan, rumah sakit sudah tahu bahwa ini pasien gagal jantung. Jadi UGD-nya lebih siap,” ujarnya.
Akses menuju klinik juga tidak dibatasi berdasarkan asal rujukan. Pasien dapat dirujuk dari berbagai fasilitas pelayanan kesehatan. Untuk peserta BPJS, layanan gagal jantung tersebut sudah dapat digunakan.
Namun, layanan jantung di RSUD IA Moeis masih memiliki keterbatasan. Pelayanan kateterisasi jantung, termasuk tindakan pemasangan ring, belum dapat dilakukan bagi pasien BPJS. Pihak rumah sakit masih mengupayakan pemenuhan layanan tersebut dan telah mengajukan kebutuhan kateterisasi selama lebih dari satu tahun.
Pengembangan Klinik Gagal Jantung diarahkan untuk menekan risiko kematian akibat penyakit tersebut. Osa menyebut angka kematian pasien gagal jantung masih berada di kisaran 30 persen.
“Tujuannya satu mengurangi angka kematian. Itu nomor satu goal-nya,” ungkapnya.
Selain kematian, penanganan yang lebih terarah diharapkan dapat membantu mengurangi risiko pasien kembali menjalani perawatan di rumah sakit.
Karena itu, masyarakat diminta tidak mengabaikan sesak napas yang muncul saat melakukan aktivitas ringan. Terutama jika keluhan terjadi berulang dan kemampuan beraktivitas menurun dibandingkan sebelumnya, pemeriksaan medis diperlukan untuk mengetahui penyebabnya.

