Insitekaltim, Samarinda – Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Kalimantan Timur (Kaltim) memasuki hari kedua, Rabu 16 September 2026. Pesawat Cessna yang ditempatkan di Bandara Aji Pangeran Tumenggung (APT) Pranoto Samarinda disiagakan untuk mencari peluang terbentuknya awan yang bisa dipicu menjadi hujan.
Operasi ini tidak berjalan dengan pola penerbangan rutin dari satu rute ke rute lain. Pesawat baru diterbangkan ketika pemantauan menemukan awan yang dinilai memiliki potensi menghasilkan hujan.
Kondisi tersebut membuat pemantauan awan menjadi bagian penting dalam pelaksanaan OMC. Tim bersiaga selama 24 jam agar peluang pembentukan awan tidak terlewat.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Samarinda Suwarso mengatakan seluruh perangkat pendukung operasi telah disiapkan. Sekitar 60 ton garam yang digunakan sebagai bahan penyemaian awan juga telah tiba di APT Pranoto dari Lanud Dhomber.
“Tadi pagi sekitar 60 ton garam dari Lanud Dhomber sudah datang, pilot juga siap. Sekarang tinggal menunggu dan memantau potensi pembentukan awan yang berpeluang menjadi hujan,” kata Suwarso di DPRD Samarinda, Selasa, 15 September 2026.
OMC dijadwalkan berlangsung selama 15–19 September 2026. Wilayah pemantauannya mencakup seluruh Kaltim, dengan penerbangan disesuaikan dengan jarak dan kemampuan pesawat.
Suwarso mengatakan operasi tersebut harus memanfaatkan sekecil apa pun peluang awan yang berpotensi menghasilkan hujan.
“Perintah BNPB jelas, sekecil apapun peluang jika ada potensi titik awan yang berpotensi hujan, maka harus dilakukan OMC,” ujarnya.
Pelaksanaan OMC dilakukan di tengah kondisi kemarau yang masih berdampak terhadap Kaltim, sekaligus ketika ancaman kebakaran hutan dan lahan masih menjadi perhatian. Karena itu, peluang hujan yang muncul dari kondisi atmosfer menjadi sasaran operasi.
Pemilihan periode 15–19 September bukan tanpa dasar. Menurut Suwarso, prediksi BMKG menunjukkan adanya peluang pembentukan awan yang dapat menimbulkan hujan pada periode tersebut.
“Karena di tanggal tersebut prediksi BMKG ada peluang pembentukan awan yang dapat menimbulkan hujan,” katanya.
Selama operasi berlangsung, keberadaan pesawat di APT Pranoto menjadi bagian dari kesiapsiagaan. Pesawat, pilot, personel pendukung dan bahan penyemaian telah tersedia, sementara keputusan untuk melakukan penerbangan mengikuti perkembangan awan yang dipantau di wilayah Kaltim.

