Close Menu
insitekaltim.com

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

    What's Hot

    Lampu Jembatan Mahulu Belum Menyala Penuh, PUPR Bidik Pemasangan 2027

    September 15, 2026

    Perusahaan di Samarinda Didorong Perkuat Kontribusi Tangani Kondisi Darurat

    September 15, 2026

    Air Minum Jadi Titik Rawan Penyakit Saat Kemarau

    September 15, 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    • Redaksi
    • Kode Etik
    • Pedoman
    • Kode Perilaku Perusahaan
    Facebook X (Twitter) Instagram
    insitekaltim.cominsitekaltim.com
    • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Politik
    • Pemerintah
    • ADVETORIAL
      • Diskominfo Kaltim
      • Diskominfo Kutim
      • DPRD Bontang
      • DPRD Kaltim
      • DPRD Kutim
      • DPRD Samarinda
      • Kemenkum Kaltim
    • Lifestyle
    • Olahraga
    • Kesehatan
    insitekaltim.com
    Home»Lifestyle»Kesehatan»Air Minum Jadi Titik Rawan Penyakit Saat Kemarau
    Kesehatan

    Air Minum Jadi Titik Rawan Penyakit Saat Kemarau

    AminahBy AminahSeptember 15, 202604 Mins Read
    Facebook Twitter WhatsApp Telegram
    Teks: Proses produksi air minum kemasan (Dok/Insitekaltim)
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn WhatsApp Pinterest Email

    Insitekaltim, Samarinda – Air menjadi kebutuhan yang paling terasa ketika kemarau datang. Saat sumber air mulai menyusut, perhatian biasanya tertuju pada satu pertanyaan apakah persediaannya masih cukup?

    Padahal ada persoalan lain yang tidak kalah penting. Air yang masih tersedia belum tentu aman untuk diminum. Kondisi sumber air, cara pengolahan, penyimpanan hingga kebiasaan mengambil air di rumah ikut menentukan apakah air tersebut benar-benar layak dikonsumsi. Jika salah satu tahapan diabaikan, air yang semula aman dapat kembali tercemar sebelum masuk ke tubuh.

    Risiko inilah yang perlu diperhatikan masyarakat Kalimantan Timur selama musim kemarau. Air yang tercemar dapat menjadi media penularan berbagai penyakit.

    Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut kontaminasi mikroba pada air minum sebagai salah satu risiko terbesar terhadap keamanan air. Air yang terkontaminasi dapat menularkan penyakit seperti diare, disentri dan tifoid.

    Tifoid misalnya, umumnya menyebar melalui makanan atau air yang terkontaminasi bakteri Salmonella Typhi. WHO juga mencatat risiko penyakit tersebut lebih tinggi pada masyarakat yang tidak memiliki akses memadai terhadap air aman dan sanitasi.

    Karena itu, persoalan air pada musim kemarau seharusnya tidak berhenti pada bagaimana mendapatkan air, tetapi juga bagaimana memastikan air tersebut tetap aman sampai dikonsumsi.

    Air tidak cukup hanya terlihat jernih

    Masyarakat kerap menggunakan kondisi fisik air sebagai patokan sederhana. Padahal, air yang tampak jernih belum otomatis bebas dari kontaminasi mikrobiologis.

    Sebaliknya, perubahan warna, bau atau rasa menjadi tanda yang patut dicermati. Jika karakter air berubah dari kondisi biasanya, masyarakat perlu berhati-hati dan tidak langsung menggunakannya untuk konsumsi.

    Kepala Dinas Kesehatan Kalimantan Timur (Kaltim) Jaya Mualimin mengingatkan masyarakat menggunakan sumber air yang aman dan tidak tercemar untuk kebutuhan konsumsi sehari-hari.

    Peringatan itu menjadi relevan karena keamanan air tidak hanya ditentukan oleh sumbernya. Air yang telah diambil masih harus melalui proses pengolahan dan penyimpanan yang benar.

    Dinkes menyarankan air diolah sebelum diminum, salah satunya dengan merebus hingga benar-benar mendidih. Tujuannya untuk membunuh bakteri yang mungkin terdapat di dalam air.

    Sudah direbus, masih bisa tercemar

    Air yang sudah aman setelah diolah dapat kembali terkontaminasi ketika disimpan atau diambil secara tidak higienis. Wadah penyimpanan yang kotor, terbuka, atau tidak sesuai untuk menyimpan bahan pangan dapat menjadi titik masuk pencemar..

    Begitu pula tangan atau peralatan yang digunakan untuk mengambil air. Jaya mengingatkan bagian ini sering kali luput dari perhatian.

    “Ambil air secara higienis, yakni dengan selalu memastikan tangan dan peralatan yang digunakan dalam keadaan bersih saat menyentuh air minum,” ujarnya.

    Artinya, keamanan air tidak hanya bergantung pada proses memasak. Kebiasaan setelah air selesai diolah juga menentukan.

    Air sebaiknya ditempatkan dalam wadah bersih dan tertutup. Ketika hendak digunakan, tangan maupun alat yang bersentuhan dengan air juga harus bersih. Prinsipnya jangan sampai air yang sudah dibuat aman kembali tercemar karena cara penyimpanannya.

    Sumber air juga perlu dijaga

    Persoalan berikutnya berada di luar wadah penyimpanan, yakni sumber air itu sendiri. Menjaga kebersihan lingkungan sekitar sumber air menjadi bagian dari upaya mencegah pencemaran. Jika sumber air sudah tercemar, masyarakat akan menghadapi risiko sejak awal sebelum air sampai ke rumah.

    Karena itu, Dinkes Kaltim juga meminta masyarakat bersama-sama menjaga kebersihan sumber air di sekitar tempat tinggal.

    “Keenam, lindungi keluarga dan lingkungan dengan secara disiplin bersama-sama menjaga kebersihan sumber air yang ada di sekitar tempat tinggal,” kata Jaya.

    Pendekatan seperti ini sejalan dengan panduan WHO yang menempatkan keamanan air sebagai proses yang perlu dikelola dari sumber hingga sampai kepada konsumen, bukan hanya diperiksa ketika air sudah berada di dalam rumah.

    Kemarau menguji kebiasaan rumah tangga

    Di tengah kemarau, masyarakat mungkin tidak memiliki banyak pilihan ketika sumber air utama berkurang. Tetapi keterbatasan pilihan bukan berarti keamanan air bisa diabaikan.

    Ada beberapa hal sederhana yang dapat menjadi pemeriksaan sebelum air diminum dari mana air berasal, apakah perlu diolah, bagaimana air disimpan, apakah wadahnya bersih, dan apakah terdapat perubahan warna, bau atau rasa.

    Jika kualitas air diragukan, jangan menganggapnya aman hanya karena terlihat bersih. Sebab persoalan air tidak berhenti ketika air berhasil didapatkan. Air baru benar-benar menjadi kebutuhan yang aman ketika kualitasnya terjaga sampai dikonsumsi.

     

    Air Bersih Air Minum Dinkes Kaltim Jaya Mualimin WHO
    Share. Facebook Twitter WhatsApp Telegram
    Aminah

    Related Posts

    Air Bersih Samarinda Kembali Normal, Perumda Waspadai Intrusi Air Asin 10 Hari ke Depan

    September 14, 2026

    20 Ribu Anak Kaltim Berisiko Zero Dose, Pemerintah Punya Waktu Sebulan untuk Mengejar

    September 14, 2026

    Ubah Gaya Hidup Sebelum Terlambat, Esensi Pencegahan Kerusakan Tulang Belakang

    September 12, 2026

    Intrusi Air Asin Makin Jauh, Kadar Klorida Air Baku Samarinda Tembus Batas Aman

    September 11, 2026

    Kemenkes Pastikan BIAS Tetap Jalan, Kasus KIPI di Karo Dinilai Tak Berkaitan dengan Vaksin HPV

    September 11, 2026

    RS Mulya Medika Dorong Warga Cegah Penyakit, Tak Hanya Datang Saat Sakit

    September 10, 2026
    Add A Comment
    Leave A Reply

    Anda harus masuk untuk berkomentar.

    @insitekaltim_
    Don't Miss

    Lampu Jembatan Mahulu Belum Menyala Penuh, PUPR Bidik Pemasangan 2027

    Ratu ArifanzaSeptember 15, 2026

    Insitekaltim, Samarinda — Penerangan di Jembatan Mahakam Ulu (Mahulu) Samarinda belum sepenuhnya tersedia pada bagian…

    Perusahaan di Samarinda Didorong Perkuat Kontribusi Tangani Kondisi Darurat

    September 15, 2026

    Air Minum Jadi Titik Rawan Penyakit Saat Kemarau

    September 15, 2026

    Pelayanan Ramah, Perpustakaan Jadi Alternatif Ruang Belajar Mahasiswa

    September 15, 2026

    Porprov Kaltim Dua Tahun Sekali, Dispora Soroti Efisiensi Anggaran dan Pembinaan Atlet

    September 15, 2026
    1 2 3 … 3,343 Next
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Redaksi
    • Kode Etik
    • Pedoman
    • Kode Perilaku Perusahaan
    © 2026 InsiteKaltim.com

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.