Insitekaltim, Samarinda – Lapangan olahraga semakin ramai saat akhir pekan, tetapi kebiasaan berolahraga belum menjadi budaya di Kalimantan Timur (Kaltim). Di tengah meningkatnya penggunaan gawai, aktivitas fisik masyarakat justru dinilai terus menurun. Dampaknya bukan hanya pada kebugaran, tetapi juga regenerasi atlet.
Data kebugaran masyarakat yang dipaparkan Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kaltim menunjukkan tingkat kebugaran masih berada pada level rendah. Kondisi itu disebut tidak lepas dari minimnya partisipasi masyarakat dalam olahraga sehari-hari.
“Sekarang banyak olahraga tangan. Anak-anak lebih banyak scrolling daripada bergerak. Ini tantangan terbesar kita,” kata Plt Kepala Dispora Kaltim Rasman Rading dalam diskusi Bincang Bugar KORMI, Selasa, 28 Juli 2026.
Persoalan itu, tidak bisa dibebankan kepada pemerintah semata. Organisasi olahraga masyarakat juga dinilai belum sepenuhnya berfungsi sebagai penggerak aktivitas olahraga di tingkat akar rumput.
Banyak organisasi, katanya, telah memiliki kepengurusan, tetapi belum mampu menghadirkan kegiatan yang menarik partisipasi masyarakat.
“Kalau hanya sekadar organisasi, untuk apa? Yang dibutuhkan organisasi yang benar-benar hidup di lapangan,” ujarnya.
Rasman juga mengkritik pola regenerasi organisasi yang dinilai berjalan di tempat. Kepengurusan sering kali hanya berganti jabatan di antara orang yang sama tanpa memperluas basis anggota.
“Jangan sampai orangnya itu-itu saja. Hari ini sekretaris, besok ketua, lalu bendahara. Siklusnya hanya itu-itu saja,” imbaunya.
Menurutnya, pembinaan olahraga prestasi tidak akan berjalan jika olahraga masyarakat tidak lebih dulu tumbuh. Semakin sedikit warga yang aktif bergerak, semakin sempit pula peluang lahirnya atlet baru.

