Close Menu
insitekaltim.com

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

    What's Hot

    Banjir Kampung Jawa Belum Tuntas, Jasno Desak Drainase Pasundan Dilanjutkan

    Agustus 28, 2026

    Terowongan Rampung Tapi Belum Dibuka, Jasno Soroti Izin Kementerian

    Agustus 28, 2026

    AI Makin Canggih, Dosen Polnes Ingatkan Mahasiswa TI Jangan Kehilangan Kemampuan Berpikir

    Agustus 28, 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    • Redaksi
    • Kode Etik
    • Pedoman
    • Kode Perilaku Perusahaan
    Facebook X (Twitter) Instagram
    insitekaltim.cominsitekaltim.com
    • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Politik
    • Pemerintah
    • ADVETORIAL
      • Diskominfo Kaltim
      • Diskominfo Kutim
      • DPRD Bontang
      • DPRD Kaltim
      • DPRD Kutim
      • DPRD Samarinda
      • Kemenkum Kaltim
    • Lifestyle
    • Olahraga
    • Kesehatan
    insitekaltim.com
    Home»Ekonomi»Lonjakan Harga BBM dan Pelemahan Rupiah, Tekan Biaya Produksi Pengusaha Kaltim
    Ekonomi

    Lonjakan Harga BBM dan Pelemahan Rupiah, Tekan Biaya Produksi Pengusaha Kaltim

    IraBy IraJuni 18, 2026Updated:Juli 5, 202602 Mins Read
    Facebook Twitter WhatsApp Telegram
    Teks: Ketua HIPKA Kaltim, Salman Farisi (Insitekaltim/Nur)
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn WhatsApp Pinterest Email

    Insitekaltim, Samarinda – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan pelemahan nilai tukar rupiah mulai memberikan tekanan terhadap dunia usaha di Kalimantan Timur (Kaltim).

    Sektor transportasi dan logistik, jadi sektor yang berimbas langsung pada meningkatnya biaya produksi berbagai komoditas.

    Ketua Himpunan Pengusaha KAHMI (HIPKA) Kalimantan Timur Salman Farisi mengatakan, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian serius pemerintah. Karena berpotensi memengaruhi aktivitas usaha, hingga pertumbuhan ekonomi daerah.

    Menurutnya, Kaltim merupakan salah satu daerah penyumbang terbesar penerimaan negara melalui sektor pertambangan, minyak dan gas bumi (migas), perkebunan kelapa sawit (CPO), serta sektor unggulan lainnya.

    Karena itu, berbagai kebijakan ekonomi nasional, akan berdampak langsung terhadap aktivitas usaha di daerah.

    “Ketika biaya logistik dan transportasi naik akibat kenaikan BBM, otomatis biaya produksi juga ikut meningkat. Dampaknya akan dirasakan oleh berbagai sektor usaha, termasuk komoditas pangan dan kebutuhan masyarakat lainnya,” kata Salman di Samarinda, Rabu, 17 Juni 2026.

    Ia menilai, pemerintah daerah tidak memiliki kewenangan langsung untuk mengintervensi kebijakan harga BBM. Karena ini, merupakan ranah pemerintah pusat.

    Namun, daerah dapat memberikan masukan dan mendorong lahirnya kebijakan yang mampu mengurangi beban dunia usaha.

    Ia mendorong, adanya subsidi pada sektor logistik dan transportasi. Agar kenaikan biaya produksi tidak berdampak signifikan, terhadap harga barang dan daya beli masyarakat.

    “Kami berharap seluruh pemangku kepentingan di daerah, baik pemerintah daerah, aparat penegak hukum, Kadin, APINDO maupun organisasi usaha lainnya dapat bersama-sama mendorong pemerintah pusat memberikan subsidi terhadap sektor logistik dan transportasi,” ujarnya.

    Selain persoalan BBM, Salman juga menyoroti belum optimalnya aktivitas sektor pertambangan. Akibat keterlambatan penerbitan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB), sejumlah perusahaan tambang.

    Menurutnya, hingga memasuki pertengahan tahun, masih terdapat perusahaan yang belum memperoleh persetujuan RKAB secara penuh sehingga produksi belum berjalan maksimal.

    “Kalaupun sudah turun, sebagian baru sekitar 30 persen. Ini tentu berdampak pada produksi perusahaan tambang dan berimbas ke kontraktor, subkontraktor, usaha katering, rumah makan hingga sektor jasa lainnya,” katanya.

    Ia mengingatkan kondisi tersebut dapat menimbulkan efek berantai terhadap perekonomian daerah, termasuk berkurangnya aktivitas usaha dan meningkatnya potensi pemutusan hubungan kerja (PHK).

    “Dampaknya seperti bola salju. Ketika produksi turun, aktivitas usaha ikut berkurang. Kontraktor terdampak, tenaga kerja berkurang, bahkan tingkat hunian hotel juga bisa menurun,” ujarnya.

    Ia berharap, pemerintah pusat dapat memperhatikan dampak ekonomi dari berbagai kebijakan yang diterapkan. Agar dunia usaha tetap tumbuh dan mampu, menjaga stabilitas ekonomi daerah di tengah tantangan global yang terus berkembang.

     




    Share. Facebook Twitter WhatsApp Telegram
    Ira

    Related Posts

    Dishub Samarinda Finalisasi Parkir Berlangganan, Target Awal 300 Ribu Kendaraan

    Agustus 28, 2026

    UMKM Kaltim Butuh Modal dan Pelatihan, Mirni Dorong Solusi Lewat Koperasi

    Agustus 28, 2026

    RIPERDA Samarinda Dikaji Ulang, Draf Lama Dinilai Tak Lagi Relevan

    Agustus 27, 2026

    Mahakam Punya Potensi Wisata, Tapi Pengembangannya Tak Bisa Tanpa Modal Besar

    Agustus 27, 2026

    Amplang Tak Lagi Bulat, UMKM Samarinda Sulap Jadi Stik hingga Rasa Buah Naga

    Agustus 26, 2026

    UMKM Kaltim Raup Rp1,14 Miliar di KKI 2026, Empat Produk Tembus Pasar Internasional

    Agustus 25, 2026
    Add A Comment

    Comments are closed.

    @insitekaltim_
    Don't Miss

    Banjir Kampung Jawa Belum Tuntas, Jasno Desak Drainase Pasundan Dilanjutkan

    Andika SaputraAgustus 28, 2026

    Insitekaltim, Samarinda – Pembangunan drainase di kawasan Jalan Pasundan Kota Samarinda dinilai perlu dilanjutkan untuk…

    Terowongan Rampung Tapi Belum Dibuka, Jasno Soroti Izin Kementerian

    Agustus 28, 2026

    AI Makin Canggih, Dosen Polnes Ingatkan Mahasiswa TI Jangan Kehilangan Kemampuan Berpikir

    Agustus 28, 2026

    Bahaya Multitasking Berlebihan, Kognitif Menurun hingga Memori Cepat Lemot

    Agustus 28, 2026

    Dishub Samarinda Finalisasi Parkir Berlangganan, Target Awal 300 Ribu Kendaraan

    Agustus 28, 2026
    1 2 3 … 3,304 Next
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Redaksi
    • Kode Etik
    • Pedoman
    • Kode Perilaku Perusahaan
    © 2026 InsiteKaltim.com

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.