Insitekaltim, Samarinda – Sebanyak 72 mahasiswa Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) PGRI Kalimantan Timur (Kaltim) mengikuti ujian skripsi gelombang pertama tahun akademik 2025/2026. Kampus berharap hasil penelitian dan tugas akhir yang dihasilkan mahasiswa tidak hanya menjadi syarat kelulusan, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Rektor Suriansyah mengapresiasi keberagaman karya ilmiah yang dihasilkan mahasiswa tahun ini. Menurutnya, kebijakan kampus yang memberikan keleluasaan dalam memilih bentuk tugas akhir telah mendorong lahirnya berbagai inovasi dan kreativitas mahasiswa.
“Karya ilmiah atau tugas akhir mahasiswa tahun ini sangat variatif. Ini langkah yang luar biasa karena mahasiswa diberikan kebebasan memilih jalur tugas akhirnya. Mereka menunjukkan kemampuan yang mungkin sebelumnya di luar prediksi kita,” ujar Suriansyah usai pembukaan ujian skripsi di Kampus IKIP PGRI Kaltim, Kamis, 11 Juni 2026.
Ia menjelaskan, variasi tugas akhir tersebut menunjukkan mahasiswa tidak hanya memperoleh pengetahuan dari lingkungan kampus, tetapi juga aktif mengikuti perkembangan pendidikan tinggi dan kebutuhan masyarakat.
Selain menyelesaikan studi, mahasiswa juga didorong untuk mempublikasikan hasil penelitiannya ke jurnal ilmiah. Untuk mendukung hal tersebut, kampus menyiapkan pembinaan dan pendampingan bagi mahasiswa setelah ujian skripsi hingga memasuki tahapan yudisium.
“Kami berharap karya-karya mahasiswa tidak berhenti di tugas akhir saja, tetapi bisa dipublikasikan di jurnal sehingga manfaatnya dapat dirasakan lebih luas,” katanya.
Suriansyah menilai penelitian mahasiswa memiliki potensi untuk memberikan dampak langsung di tengah masyarakat. Mahasiswa Program Studi Pendidikan Ekonomi, misalnya, dapat berkontribusi melalui pendampingan pengembangan koperasi desa, sedangkan mahasiswa Pendidikan Otomotif dapat membantu meningkatkan standar pelayanan bengkel di daerah.
Menurutnya, upaya tersebut sejalan dengan konsep “kampus berdampak” yang saat ini menjadi salah satu arah pengembangan pendidikan tinggi di Indonesia.
“Karya mahasiswa harus memiliki dampak bagi masyarakat. Pendidikan dosen berdampak, karya dosen berdampak, dan mahasiswa juga harus demikian,” tegasnya.
Pada kesempatan itu, Suriansyah juga mengajak mahasiswa yang belum mendaftar ujian skripsi agar tidak ragu menyelesaikan tugas akhirnya. Ia menilai banyak mahasiswa yang masih merasa khawatir menghadapi ujian, padahal materi yang dipertanggungjawabkan merupakan hasil karya mereka sendiri.
“Ujian memang membuat grogi, tetapi setelah dijalani ternyata tidak semenakutkan yang dibayangkan. Yang diuji adalah apa yang dibuat oleh mahasiswa sendiri,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menegaskan komitmen kampus untuk mendorong mahasiswa menyelesaikan studi tepat waktu. IKIP PGRI Kaltim menargetkan rata-rata masa studi mahasiswa dapat diselesaikan dalam waktu empat tahun atau bahkan lebih cepat.
Menurutnya, percepatan masa studi tidak hanya berdampak pada efektivitas pendidikan, tetapi juga dapat membantu mengurangi beban biaya yang harus ditanggung orang tua selama masa perkuliahan.
“Kami berharap mahasiswa bisa lulus tepat waktu, memperoleh pekerjaan yang layak, dan bekerja sesuai kompetensi yang dimiliki,” katanya.
Sementara itu, Wakil Ketua Panitia Ujian Skripsi sekaligus Wakil Rektor Bidang Humas dan Kerja Sama IKIP PGRI Kaltim, Abdul Rozak Fahruddin, menyampaikan bahwa 72 mahasiswa mengikuti ujian skripsi gelombang pertama tahun ini.
Program Studi Pendidikan Kepelatihan Olahraga (PKO) menjadi penyumbang peserta terbanyak dengan 42 mahasiswa. Disusul Program Studi Pendidikan Ekonomi sebanyak 29 mahasiswa, sementara Program Studi Pendidikan Otomotif mencatat satu peserta ujian skripsi.
“Kami berharap seluruh mahasiswa yang mengikuti ujian skripsi gelombang pertama ini dapat lulus dengan hasil yang memuaskan,” ujar Abdul Rozak.
Pelaksanaan ujian skripsi tersebut menjadi bagian dari rangkaian akademik menuju yudisium dan wisuda yang rutin digelar setiap tahun. Melalui konsistensi tersebut, IKIP PGRI Kaltim berharap dapat terus menjaga kualitas lulusan sekaligus meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap institusi pendidikan tersebut.

