Insitekaltim, Samarinda – Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan media sosial, Dosen Ilmu Komunikasi (Ilkom) Universitas Mulawarman (Unmul) Silviana Purwanti menilai Pancasila tetap relevan sebagai pedoman dalam kehidupan bermasyarakat bahkan semakin dibutuhkan di era digital saat ini.
Baginya, momentum Hari Lahir Pancasila yang diperingati setiap 1 Juni menjadi pengingat pentingnya menjaga kemanusiaan, persatuan dan etika dalam berinteraksi, termasuk di ruang digital.
Ia menjelaskan, kemudahan berkomunikasi melalui media sosial sering kali membuat masyarakat lupa bahwa dibalik setiap akun dan layar terdapat manusia yang memiliki perasaan.
“Ketika media sosial membuat kita bisa berkata apa saja tanpa tatap muka, nilai kemanusiaan yang adil dan beradab menjadi pengingat bahwa di balik setiap layar ada manusia sungguhan yang bisa terluka oleh kata-kata kita,” ujarnya kepada Insitekaltim saat diwawancara melalui WhatsApp di Samarinda, Senin, 1 Juni 2026.
Ia mengatakan, Pancasila adalah warisan pemikiran para pendiri bangsa yang mampu menjawab berbagai tantangan zaman, termasuk perubahan pola komunikasi di era digital. Diakuinya, menjaga persatuan bangsa di media sosial bukan perkara mudah.
Salah satu tantangan terbesar saat ini adalah kecenderungan masyarakat untuk hanya berinteraksi dengan kelompok yang memiliki pandangan serupa.
“Media sosial sering membuat kita terjebak di lingkaran orang-orang yang satu pemikiran saja. Ketika bertemu pendapat berbeda, respons yang muncul sering kali defensif bahkan menyerang. Ditambah lagi, hoaks menyebar jauh lebih cepat dibandingkan klarifikasinya,” tuturnya.
Kondisi tersebut, lanjutnya, berpotensi mengikis empati dan memperlebar jarak antarsesama meski masyarakat tampak semakin terhubung secara digital.
“Lama-lama kita bisa menjadi bangsa yang ramai tetapi kesepian, memiliki banyak pengikut tetapi minim empati,” ungkapnya.
Menurutnya, generasi muda memiliki peran penting dalam menghidupkan nilai-nilai Pancasila di ruang digital. Langkah sederhana seperti berpikir sebelum membagikan informasi dan menghormati perbedaan pendapat merupakan bentuk nyata pengamalan Pancasila.
Ia pun mengingatkan bahwa media sosial pada dasarnya merupakan alat yang dapat membawa dampak positif maupun negatif, tergantung pada cara penggunanya memanfaatkannya.
“Saya pernah melihat bagaimana media sosial menyatukan donasi untuk korban bencana dalam hitungan jam. Namun saya juga menyaksikan bagaimana satu unggahan dapat memecah hubungan dalam keluarga. Karena itu, literasi digital bukan lagi pilihan, melainkan keharusan,” tegasnya.
Pada momentum Hari Lahir Pancasila 2026, ia mengajak masyarakat untuk tidak menjadikan Pancasila sekadar hafalan atau seremonial tahunan. Sebab nilai-nilai Pancasila hidup dalam keputusan-keputusan kecil yang diambil setiap hari.
“Pancasila hidup ketika kita memilih tidak menyebarkan informasi yang belum tentu benar, menghormati pendapat yang berbeda, dan menjadi bagian dari solusi, bukan kebisingan. Di hari lahir Pancasila ini, mari bertanya pada diri sendiri, sudahkah ruang digital kita mencerminkan bangsa yang kita banggakan?” pungkasnya.

