Insitekaltim, Samarinda – Perebutan kursi Ketua Badan Pengurus Wilayah (BPW) Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Kaltim mulai memanas. Dua kandidat kuat, Ridwan Tasa dan Muhammad Nasir, saling berebut dukungan dalam Musyawarah Wilayah (Muswil) IX KKSS Kaltim di Hotel Puri Senyiur Samarinda, Minggu, 31 Mei 2026.
Muhammad Nasir datang membawa dukungan empat BPD, yakni Bontang Mahakam Ulu, Kutai Kartanegara, dan Kutai Timur. Sementara Ridwan Tasa mengantongi dukungan enam BPD dari Samarinda, Kutai Barat, Penajam Paser Utara, Paser, Balikpapan, dan Berau.
Persaingan kedua kandidat tidak hanya memunculkan dinamika internal organisasi, tetapi juga memantik sorotan terkait dugaan permainan dukungan dan manuver tim sukses yang disebut-sebut terjadi menjelang pemilihan.
Ketua BPW KKSS Kaltim Alimuddin Latif meminta kedua kandidat dan seluruh pendukung menjaga suasana tetap kondusif. Ia menekankan bahwa kalah dan menang merupakan hal biasa dalam organisasi.
“Saya berharap kepada H Nasir dan H Ridwan bisa punya jiwa besar dan menjadi teladan. Mari kita memberikan contoh kepada warga kita bahwa kalah dan menang itu biasa. Tapi bagaimana kita maju dengan niat baik, karena persoalan kalah dan menang adalah urusan Allah,” ujarnya.
Ia juga meminta seluruh tim sukses menahan diri agar Muswil berjalan tertib dan tidak menimbulkan perpecahan di internal KKSS.
“Tenangkan pendukungnya, tenangkan tim suksesnya agar semua rangkaian acara ini berjalan baik, tertib, dan sukses,” katanya.
Suasana forum semakin mencuri perhatian ketika Wali Kota Samarinda Andi Harun secara terbuka menyinggung adanya pihak-pihak yang disebut memainkan dua kaki dan memanfaatkan rivalitas kedua kandidat untuk kepentingan tertentu.
“Antara H Nasir dan H Ridwan dijadikan mainan. Ada yang ketika ketemu H Nasir bukan main, habis itu ketemu H Ridwan juga bukan main lagi,” ujar Andi Harun di hadapan peserta Muswil.
Ia bahkan mengaku memegang data terkait pergerakan sejumlah pihak yang diduga mencoba memainkan konflik demi keuntungan tertentu.
“Semakin berkonflik, semakin banyak isu, semakin harapannya keluar kantongnya. Ini yang saya tidak suka,” tegasnya.
Andi Harun juga mengingatkan agar dinamika pemilihan tidak merusak persaudaraan warga KKSS di Kalimantan Timur. Ia menilai organisasi paguyuban semestinya menjadi ruang memperkuat solidaritas sosial, bukan arena konflik berkepanjangan.
“Kita harus menjaga kehormatan KKSS ini melalui sikap, perilaku, dan pikiran kita. KKSS harus menjadi organisasi yang bermanfaat dan terhormat di tengah masyarakat Kaltim,” katanya.
Praktik adu domba dan penyebaran isu yang menurutnya sering dimanfaatkan untuk memperkeruh situasi organisasi maupun politik daerah.
“Saya juga pernah diadu domba dengan Pak Gubernur. Padahal kami baik-baik saja. Kalau ada konflik, pasti ada yang ingin mengambil manfaat,” ucapnya.
Di sisi lain, Andi Harun menilai Muswil kali ini menjadi momentum penting menentukan arah KKSS lima tahun ke depan. Ia berharap kepengurusan baru nantinya tidak hanya sibuk dengan agenda seremonial, tetapi menghadirkan program nyata bagi warga Sulawesi Selatan di Kaltim.
“Mungkin tidak usah terlalu banyak program. Satu dua saja, tapi realistis dan bisa dilaksanakan yang penting KKSS benar-benar hadir membantu masyarakat,” pungkasnya.

