Insitekaltim, Samarinda – Masjid Raya Darussalam Samarinda menerapkan sistem penyaluran zakat berbasis kolaborasi dengan RT, kelurahan, dan lembaga sosial guna memastikan bantuan tepat sasaran.
Ketua Yayasan Masjid Raya Darussalam Samarinda Arnani mengatakan, pihaknya tidak lagi membagikan zakat secara langsung di masjid karena pertimbangan keamanan.
“Kalau dibagikan langsung di sini, berisiko terjadi kerumunan. Masyarakat bisa berjubel dan itu berbahaya,” ujarnya Rabu, 18 Maret 2026.
Sebagai gantinya, masjid bekerja sama dengan berbagai pihak seperti RT, kelurahan, lembaga sosial keagamaan, hingga organisasi mualaf untuk mendata mustahik (penerima zakat).
“Data penerima harus dilengkapi dengan KTP, kartu keluarga, dan identitas resmi organisasi. Ini untuk memastikan tidak ada data fiktif,” jelasnya.
Setelah data diverifikasi, tim penyalur akan turun langsung ke lapangan untuk membagikan zakat kepada masyarakat yang telah terdaftar.
“Kami minta RT mengumpulkan penerima di satu titik, lalu kami datang membawa beras dan uang untuk disalurkan,” tambahnya.
Arnani menegaskan bahwa sistem ini telah diterapkan selama puluhan tahun dan terbukti lebih efektif serta aman.
Dalam pelaksanaannya, terdapat dua tim yang bekerja, yakni tim penerima zakat dan tim penyalur zakat. Penyaluran dilakukan secara bertahap menyesuaikan jumlah dana yang masuk.
Hingga saat ini, total dana yang telah disalurkan mencapai Rp78,8 juta, dengan distribusi beras sebanyak 960 kilogram.
Ia juga menjelaskan zakat mal yang terkumpul tidak disalurkan langsung oleh pihak masjid, melainkan disetorkan ke Baznas untuk dikelola lebih lanjut.
“Yang kami salurkan langsung hanya zakat fitrah, sesuai kewenangan yang diberikan,” katanya.
Penyaluran zakat difokuskan terlebih dahulu kepada masyarakat di lingkungan sekitar sebelum diperluas ke wilayah lain.
