Insitekaltim, Samarinda – Masalah sampah di Kota Samarinda sering kali dianggap sebagai tanggung jawab petugas kebersihan dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH). Namun, bagi Masrukhi Ketua RT 43 Kelurahan Sempaja Timur, kunci utama penyelesaian masalah ini justru berada di hulu, yakni di dalam rumah tangga dan pola pikir setiap individu.

Sejak menjabat sebagai Ketua RT selama setahun terakhir ini, Masrukhi memfokuskan energinya untuk menghidupkan kembali Bank Sampah Unit di lingkungannya. Baginya, menyediakan infrastruktur sampah jauh lebih mudah dibandingkan membentuk kesadaran kolektif warga.
“Yang susah itu membentuk karakter warga. Bagaimana mengubah mindset yang dulunya terbiasa membuang sampah sembarangan atau mencampur semua jenis limbah, tiba-tiba harus beralih ke pola hidup memilah. Membentuk budaya seseorang itu tidak bisa instan, perlu waktu dan keteladanan,” ujar Masrukhi saat ditemui di kediamannya Minggu, 15 Februari 2026.
Salah satu inovasi yang ia banggakan adalah Bank Sampah Kejujuran. Nama ini diambil bukan tanpa alasan. Bersama Direktur Bank Sampah RT 43, ia mengajak warga untuk mengelola sampahnya secara mandiri dan transparan.
Dalam operasionalnya, warga yang membawa sampah anorganik diminta untuk menimbang sendiri dan mencatatkan hasilnya pada buku rekapan yang terbuat dari bahan bekas seperti kalender.
“Nasabah catat sendiri jenis sampahnya, apakah itu plastik, kardus, atau besi. Kami ingin menanamkan rasa memiliki dan kejujuran. Hasil penjualannya pun nanti dikembalikan seutuhnya ke warga. Jadi, ada nilai ekonomi yang langsung dirasakan,” jelasnya.
Urgensi yang dibawa Masrukhi dipicu oleh fakta lapangan yang cukup mencemaskan. Berdasarkan hasil pertemuan dengan pihak DLH, angka produksi sampah per jiwa di Samarinda terus merangkak naik. Jika pada tahun 2023 angka rata-rata berada di level 0,5 kilogram per jiwa, kini di tahun 2024 angka tersebut melonjak menjadi 0,7 kilogram.
“Kalau kita kalkulasikan dengan jumlah penduduk Samarinda, masuk akal jika sampah yang masuk ke TPA bisa mencapai 500 ton per hari. Itulah mengapa saya selalu menghimbau warga atau saat gotong royong rutin setiap minggu pertama dan ketiga. Kita harus menekan angka ini dari lingkungan terkecil,” tegas Masrukhi.
Masrukhi tidak hanya sekadar memberi imbauan. Ia mempraktikkan langsung prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle) di lingkungannya. Ia menunjukkan bagaimana jeriken bekas minyak goreng bisa disulap menjadi pot tanaman yang cantik, atau gelas plastik bekas air mineral yang dirangkai menjadi lampion hias.
Meskipun saat ini pengelolaan bank sampah di RT 43 masih bersifat swadaya dari kas RT dan warga, Masrukhi memiliki mimpi besar. Ia berharap kedepannya terdapat alat pengolahan seperti insinerator skala kecil atau mesin pencetak paving block dari limbah plastik.
“Kami ingin sampah tidak ada yang terbuang sia-sia. Kalau kita punya sarananya, plastik-plastik itu bisa dilebur jadi biji plastik atau dicetak menjadi kursi taman. Harapannya, warga tidak lagi melihat sampah sebagai kotoran, tapi sebagai sumber daya yang bisa dikelola,” pungkasnya.
Hingga saat ini, RT 43 terus berupaya menjadi salah satu percontohan di Kelurahan Sempaja Timur, membuktikan bahwa dengan kepemimpinan yang gigih dan edukasi yang konsisten, mindset masyarakat tentang sampah perlahan namun pasti bisa diubah.

