
Insitekaltim, Samarinda – Wakil Ketua II DPRD Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) Ananda Emira Moeis menaruh perhatian serius terhadap arah pembangunan di Kecamatan Samarinda Utara. Hal itu disampaikannya saat menghadiri Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Kecamatan Samarinda Utara, Rabu, 11 Februari 2026.
Ananda menegaskan, Samarinda Utara memiliki peran strategis yang melampaui batas administratif Kota Samarinda. Wilayah ini dinilainya sebagai urat nadi logistik Kaltim, sekaligus wajah utama provinsi di jalur perlintasan antardaerah.
“Samarinda Utara ini merupakan salah satu gerbang masuk Kaltim. Jalur distribusi ekonomi untuk barang-barang logistik menuju Bontang, Kutai Timur, hingga Berau semuanya melintasi wilayah ini. Jika jalurnya terhambat, maka perekonomian di wilayah utara Kaltim juga akan terdampak,” ujarnya.
Keberadaan Bandara APT Pranoto serta status Samarinda Utara sebagai jalur lintas transkabupaten. Menurut Ananda, menjadikan kawasan ini menanggung beban infrastruktur yang cukup besar. Karena itu, ia berkomitmen mengawal aspirasi masyarakat yang diserap melalui reses dan Musrenbang agar dapat diakomodasi di tingkat provinsi.
Melalui kewenangannya sebagai legislator, Ananda memastikan usulan prioritas Samarinda Utara akan diperjuangkan agar memperoleh porsi dalam skema Bantuan Keuangan (Bankeu) provinsi pada pembahasan anggaran mendatang.
Selain isu konektivitas dan infrastruktur, Ananda juga menyoroti persoalan stunting yang masih menjadi tantangan serius. Ia mengungkapkan terdapat 213 kasus stunting di Samarinda Utara, yang dinilainya sebagai alarm bagi kualitas Sumber Daya Manusia (SDM).
Berdasarkan data, angka stunting di Kaltim saat ini masih berada di kisaran 22,2 persen, jauh di atas target nasional sebesar 14 persen.
“Penanganan stunting tidak bisa hanya bersifat kuratif. Ini harus dilakukan secara preventif dan lintas sektoral, mulai dari kualitas lingkungan, sanitasi, hingga kesiapan remaja putri sebagai calon ibu,” tegas politisi PDI Perjuangan tersebut.
Ia menekankan pentingnya upaya pencegahan sejak dini, seperti pemeriksaan kadar zat besi pada remaja putri serta pemenuhan gizi pada seribu hari pertama kehidupan.
Menurut Ananda, dampak stunting tidak hanya berpengaruh pada pertumbuhan fisik anak, tetapi juga pada perkembangan otak dan kualitas generasi masa depan.
“Bagaimana kita bisa berbicara tentang Indonesia Emas 2045 jika generasi kita masih dibayangi stunting? Karena itu, gotong royong antara pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten/kota menjadi keharusan,” katanya.
Upaya penanganan stunting tersebut, lanjut Ananda, sejalan dengan visi besar Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kalimantan Timur yang mendorong pergeseran paradigma pembangunan dari ketergantungan pada Sumber Daya Alam (SDA) menuju penguatan kualitas SDM.
Ia berharap integrasi pembangunan infrastruktur, pengendalian banjir, serta peningkatan layanan kesehatan di Samarinda Utara dapat memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat.
“Sebagai gerbang provinsi, masalah-masalah mendasar seperti banjir dan kesehatan harus diselesaikan secara komprehensif. Jika gerbangnya baik, maka citra dan perekonomian Kaltim secara keseluruhan juga akan semakin kuat,” pungkasnya.

