Insitekaltim, Samarinda – Penanganan banjir dan pengentasan stunting menjadi dua agenda utama yang diusulkan Kecamatan Samarinda Utara dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) tingkat kecamatan tahun 2026.

Kedua isu tersebut dinilai paling mendesak, karena berdampak langsung pada kualitas hidup dan produktivitas masyarakat. Hal itu disampaikan Camat Samarinda Utara Mohamad Joni.
Ia mengungkapkan bahwa persoalan banjir masih menjadi keluhan utama warga. Dari sepuluh usulan prioritas di bidang infrastruktur, sebagian besar difokuskan pada normalisasi dan peningkatan kapasitas drainase.
Menurutnya, karakteristik topografi Samarinda Utara yang beragam menuntut penanganan drainase yang komprehensif, tidak hanya sebatas pembersihan saluran, tetapi juga peningkatan dimensi dan keterhubungan antar-drainase.
“Dampak banjir di Samarinda Utara sangat besar dan dirasakan langsung oleh produktivitas warga. Karena itu, banyak drainase yang perlu ditingkatkan kapasitasnya. Kami berharap usulan ini menjadi perhatian utama OPD terkait agar realisasinya tepat sasaran,” ujar Joni Rabu, 11 Februari 2026
Ia menambahkan, peran kecamatan adalah memetakan secara detail titik-titik rawan banjir untuk kemudian dilaporkan kepada Organisasi Perangkat Daerah (OPD) teknis, sehingga intervensi anggaran dapat dilakukan secara efektif.
Selain infrastruktur, peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) juga menjadi perhatian serius. Melalui forum Rembuk Stunting yang dilaksanakan bersamaan dengan Musrenbang, tercatat sebanyak 213 anak di Kecamatan Samarinda Utara masuk dalam kategori terdampak stunting.
Data tersebut merupakan hasil validasi dari empat puskesmas di wilayah setempat. Ia menekankan, penanganan stunting tidak dapat dilakukan hanya melalui pendekatan medis, tetapi harus menyentuh aspek perilaku dan budaya masyarakat.
“Stunting ini sering dianggap sepele, padahal dampaknya permanen bagi masa depan anak. Di lapangan masih ditemukan pola makan yang kurang bergizi, seperti hanya nasi dengan air teh tanpa sayur. Di sinilah peran tenaga pendamping dan puskesmas untuk melakukan edukasi pola asuh dan pola makan secara masif,” jelasnya.
Adapun strategi penanggulangan stunting yang akan diperkuat meliputi pelaksanaan Program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) dengan memastikan penyaluran tepat sasaran, pemantauan dan evaluasi selama tiga bulan terhadap perkembangan berat dan tinggi badan anak, serta perbaikan sanitasi melalui penyediaan akses air bersih dan lingkungan yang sehat bagi keluarga terdampak.
Menutup keterangannya, Joni menyatakan optimistis dengan sinergi perencanaan dari tingkat kelurahan hingga pelaksanaan di tingkat kota, Kecamatan Samarinda Utara mampu menjadi wilayah yang lebih tangguh terhadap bencana sekaligus mencetak generasi yang lebih sehat.
“Harapan kami jelas, Samarinda Utara harus menuju zero stunting. Di saat yang sama, pembangunan infrastruktur harus mampu meminimalisir genangan air yang selama ini menghambat aktivitas dan mobilitas warga,” pungkasnya.

