Insitekaltim, Samarinda — Pengelolaan Bentang Alam Wehea Kelay dinilai menjadi contoh kolaborasi antara dunia usaha dan konservasi yang berjalan beriringan.
Hal itu disampaikan, Direktur Eksekutif Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) Herlina Hartanto.
Ia mengatakan kawasan bentang alam yang luasnya hampir setengah juta hektare tersebut, menjadi fokus pengelolaan bersama untuk memastikan keberlanjutan bisnis sekaligus perlindungan keanekaragaman hayati khususnya orangutan.
Selain itu, Bentang Alam Wehea Kelay merupakan habitat penting bagi sekitar 1.700 individu orangutan. Karena itu, pendekatan pengelolaan yang menggabungkan aspek bisnis dan konservasi menjadi kunci utama agar kedua kepentingan tersebut dapat berjalan seimbang.
Oleh karena itu, fokus pihaknya adalah memastikan perusahaan pemegang izin Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) hutan alam, Hutan Tanaman Industri (HTI), dan perkebunan sawit tetap dapat beroperasi.
“Namun pada saat yang sama, bekerja sama untuk melakukan perlindungan orangutan. Pemikiran kami saat itu adalah bagaimana menjadikan bisnis dan konservasi ini sama-sama jalan, sama-sama menang,” ungkapnya dalam Forum Wehea Kelay Untuk Multi Usaha Kehutanan dan Habitat Orang Utan pada Rabu, 11 Februari 2026.
Menurut Herlina, pengelolaan bentang alam seluas itu tentu tidak mudah dan membutuhkan komitmen jangka panjang dari berbagai pihak.
Ia mengapresiasi forum Wehea Kelay yang selama 10 tahun terakhir berhasil membangun kolaborasi multipihak antara pemerintah, perusahaan pemegang izin, organisasi nonpemerintah, dan masyarakat adat dalam menjaga kawasan tersebut.
Ia menegaskan, keberlanjutan konservasi tidak dapat dilepaskan dari dukungan pendanaan yang memadai. Herlina menyebutkan bahwa konservasi tanpa dukungan finansial hanya akan menjadi wacana semata.
“Conservation without finance is just a conversation. Tanpa pendanaan untuk mendukung pelestarian, itu hanya menjadi omong-omong. Karena itu sejak 10 tahun lalu kami mulai mengembangkan berbagai skema pendanaan konservasi,” jelasnya.
Selain hal tersebut, ada beberapa inisiatif pendanaan yang telah dan akan dikembangkan di antaranya Tropical Forest Conservation Act (TFCA) Kalimantan untuk konservasi hutan, Blue Fund di sektor kelautan, serta Coral Bond yang akan menjadi obligasi pertama di Indonesia untuk mendukung konservasi terumbu karang.
Lebih lanjut, Herlina menuturkan bahwa pengembangan multiusaha kehutanan (MUK) skala bentang alam menjadi peluang besar di Kalimantan Timur, khususnya di Wehea Kelay. Menurutnya, pendekatan ini memungkinkan terciptanya ekonomi skala besar yang mampu mendukung keberlanjutan bisnis kehutanan sekaligus konservasi.
Melalui inisiatif Betala Kalimantan, YKAN akan mengintegrasikan berbagai praktik terbaik pengelolaan hutan, mulai dari sertifikasi, pengelolaan biodiversitas, hingga pemberdayaan masyarakat dan penguatan rantai pasok komoditas seperti karet dan kakao.
“Kami yakin peluang untuk mengembangkan multiusaha kehutanan skala bentang alam di Wehea Kelay sangat terbuka. Perusahaan, pemerintah, dan masyarakat dapat bekerja sama mendorong bisnis yang bertanggung jawab, yang memberikan dampak positif bagi konservasi dan manfaat ekonomi bagi masyarakat,” tuturnya.
Menjelang mengakhiri sambutannya, ia optimistis pengalaman kolaborasi selama satu dekade terakhir menjadi modal kuat untuk menghadapi tantangan ke depan dalam membangun model bisnis kehutanan berkelanjutan di tingkat bentang alam.
“Perjalanan kita masih panjang dan tantangannya tentu banyak. Namun pembelajaran selama 10 tahun forum Wehea Kelay dan kesadaran kolektif akan pentingnya kerja sama multipihak menjadi modal besar untuk mendorong terobosan kedepannya,” pungkas Herlina sambil tersenyum.

