Insitekaltim, Samarinda – Di sebuah sudut kios yang tampak mencolok dengan nuansa merah menyala, Ibu Rita sibuk merapikan dahan-dahan bunga sakura plastik yang menjadi primadona tahun ini.

Bagi sebagian orang, Ia mungkin hanya pedagang aksesori biasa, namun bagi pelanggan setianya, Rita adalah sosok yang selalu ada di setiap momen besar.
Uniknya, Ia tidak hanya menjual pernak-pernik Imlek, melainkan selalu hadir menyediakan kebutuhan dekorasi di setiap hari raya, mulai dari Lebaran hingga Natal.
Sudah tujuh tahun lamanya Rita menekuni usaha ini. Ketekunannya membuahkan pemahaman mendalam mengenai filosofi di balik barang-barang yang ia jual.
Menjelang Imlek tahun ini, ia menjelaskan bahwa bunga sakura tetap menjadi incaran utama karena variasinya yang beragam, ada yang tipe daun, tipe kolot, hingga model terbaru.
Tidak hanya itu, ia juga menyediakan hampers dekoratif sebagai alternatif bagi mereka yang ingin berbagi hadiah selain buah atau kue.
Sambil menunjukkan koleksinya, Rita menjelaskan makna di balik hiasan Dewa Rezeki dan ornamen Ikan yang banyak dipajang di tokonya.
“Ini ada ikannya, melambangkan Nian Nian You Yu. Artinya, setiap hari dan setiap tahun itu ada rezeki,” ungkapnya.
Dalam hal warna, Rita sangat tegas mengikuti tradisi. Merah dan emas adalah warna wajib yang melambangkan kebahagiaan dan kemakmuran. Sebaliknya, ia sangat menghindari stok berwarna hitam atau putih untuk momen perayaan seperti ini.
“Jangan warna hitam ya, mereka enggak mau. Hitam-putih itu kayak berduka, kalau merah itu kebahagiaan,” tambahnya.
Tantangan terbesar tahun ini bukan hanya soal selera pasar, melainkan kondisi ekonomi yang sedang fluktuatif. Rita mengakui bahwa harga modal dari penyuplai di Jakarta yang mengimpor barang langsung dari Cina mengalami kenaikan.
Namun, di saat pedagang lain menaikkan harga jual, Rita justru memilih jalan yang berbeda. Ia memilih untuk menjaga harga tetap stabil seperti tahun-tahun sebelumnya.
Baginya, loyalitas pelanggan adalah segalanya. Strategi ini terbukti efektif banyak perusahaan besar hingga tempat wisata populer seperti Rumah Ulin Arya tetap mempercayakan kebutuhan dekorasi mereka kepadanya.
“Harga naik belum tentu konsumen mampu beli. Jadi harga saya tetap stabil. Lampion 8 inci misalnya, saya jual 80 ribu per set isi dua biji. Harga itu dari zaman dulu sampai sekarang tidak berubah. Saya mengalah sedikit (soal untung), yang penting kita bisa berbagi kebahagiaan,” jelasnya.
Rita tidak menampik bahwa secara keseluruhan, daya beli masyarakat tahun ini terasa menurun. Banyak warga yang lebih memilih menggunakan dekorasi lama yang masih layak pakai karena kondisi keuangan yang sedang sulit.
Meski demikian, ia tetap menularkan energi positif kepada sesama pedagang dan pembelinya.
“Sekarang keuangan lagi susah, tapi kita harus tetap semangat. Jangan kayak loyo gitu, walaupun ekonomi kita lagi loyo. Harapan saya buat yang merayakan, pokoknya yang penting itu bahagia. Kita lewati tahun ini meski penuh tantangan,” jelasnya penuh harap.
Melalui kiosnya, Rita tidak sekadar mencari nafkah. Ia sedang menjalankan misi untuk memastikan bahwa setiap perayaan hari raya apapun agamanya tetap bisa dirayakan dengan penuh warna dan sukacita tanpa harus terbebani oleh harga yang selangit.

