Insitekaltim, Samarinda — Kebiasaan kembali tidur setelah sahur dinilai berpotensi mengganggu metabolisme tubuh dan pola tidur selama Ramadan. Masyarakat pun diimbau untuk tetap terjaga dan melakukan aktivitas ringan usai sahur dan salat Subuh.
Imbauan tersebut disampaikan Dokter Tirta dalam sesi edukasi mengenai pola hidup sehat selama menjalankan ibadah puasa yang diunggah di kanal YouTube Tirta PengPengPeng, Jumat, 20 Februari 2026.
Dokter Tirta menjelaskan, waktu setelah sahur dan Subuh sebaiknya dimanfaatkan untuk aktivitas ringan seperti bekerja, mengaji, atau berzikir, bukan kembali tidur. Kebiasaan tidur setelah sahur, menurutnya, dapat mengacaukan jam biologis tubuh.
“Secara metabolisme, yang sering terganggu itu jam tidur dan pencernaan. Misalnya selesai sahur pukul 04.20 lalu tidur lagi. Biasanya tidak bangun tepat waktu, bisa molor sampai pukul 09.00 atau lebih. Ritme tubuh jadi berantakan,” ujarnya.
Ia mengibaratkan pola tersebut seperti kondisi “mati, hidup, lalu mati lagi” karena tubuh dipaksa kembali beristirahat setelah baru saja aktif makan dan beribadah. Hal ini, kata dia, dapat berdampak pada kualitas istirahat serta menurunkan produktivitas sepanjang hari.
Karena itu, ia menganjurkan masyarakat untuk tetap terjaga setelah sahur dengan kegiatan ibadah maupun aktivitas fisik ringan. Bahkan, menurutnya, sebagian orang memilih berolahraga ringan di pusat kebugaran yang beroperasi 24 jam.
“Kalau tidak ada pekerjaan, bisa mengaji atau berzikir sambil menunggu waktu beraktivitas. Intinya, sebaiknya tidak langsung tidur lagi setelah sahur dan Subuh,” katanya.
Selain membahas pola tidur, Dokter Tirta juga menyoroti aktivitas olahraga selama puasa. Ia mengingatkan adanya risiko hipoglikemia atau penurunan kadar gula darah di bawah normal apabila olahraga dilakukan secara berlebihan.
“Risiko terberat olahraga berlebihan saat puasa adalah hipoglikemia dan dehidrasi. Orang bisa rentan pingsan, terutama kalau belum terbiasa,” jelasnya.
Ia menambahkan, dehidrasi berat dapat dikenali dari warna urine yang pekat. Oleh sebab itu, olahraga saat puasa harus dilakukan secara bijak dan menyesuaikan kondisi tubuh masing-masing.
“Kalau sudah terbiasa olahraga saat puasa, tidak masalah. Tapi kalau belum, sebaiknya dilakukan menjelang berbuka, setelah Magrib, setelah Isya atau Tarawih, atau sebelum sahur,” tutupnya.
Edukasi tersebut diharapkan dapat menjadi panduan bagi masyarakat untuk menjaga kesehatan, ritme tubuh, dan keseimbangan pola hidup selama menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan.
