
Reporter: Nada – Editor: Redaksi
Insitekaltim, Samarinda – Masyarakat di Jalan Damai atau biasa disebut Gang Damai,, Kelurahan Sidodamai, Kecamatan Samarinda Ilir mengeluhkan banjir yang kerap terjadi di RT. 9, 25, 26, 27 dan 28.

Hal ini disampaikan langsung oleh Lurah Sidodamai Surayjin kepada awak media.
“Termasuk di kantor lurah sendiri sering mengalami banjir dengan ketinggian hingga 30 sentimeter, tidak hanya itu aktivitas anak-anak sekolah juga terganggu,” ungkapnya usai menghadiri Reses Serap Aspirasi Masyarakat salah satu anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kalimantan Timur (DPRD Kaltim) Nidya Listiyono, Minggu (16/2/2020).
Menurut Surayjin, masalah banjir di wilayahnya telah dibahas dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang).

“Sudah diajukan dan menjadi skala prioritas berkaitan dengan daerah pembangunan drainase aliran sungainya,” katanya.
Ia menyampaikan masyarakat Sidodamai menginginkan adanya ruang publik untuk kepentingan ibadah.
“Ada panitia pembangunan masjid sisa perhatian dari pemerintah kota, kalangan swasta, atau anggota dewan. Tolong dikawal agar dapat jalan keluarnya,” tambahnya.
Untuk infrastruktur, kendala utama yang dialami ialah pembangunan daerah aliran sungai (DAS).
“Karena belum bisa nembus ke Sungai Karang Mumus (SKM). Namun kita juga berterimakasih karena pemerintah mulai perduli, terbukti dengan adanya pembangunan drainase yang mulai dirasakan dampaknya oleh warga,” lanjutnya.

Anggota DPRD Kaltim Nidya Listiyono yang sedang melakukan reses serap aspirasi masyarakat di wilayah Sidodamai pun angkat bicara.
“Kebetulan lurahnya hadir secara langsung. Keluhannya memang benar dan saya sendiri pernah observasi kelapangan secara langsung dan benar sampai sepinggang,” terangnya.
Tyo, sapaannya, menegaskan bahwa dirinya akan membawa isu tersebut ke Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda.
“Karena yang punya wilayah adalah mereka (Pemkot Samarinda). Saya akan bicara ke pemkot untuk melakukan evaluasi. Lurah Sidodamai sendiri telah melakukan kajian secara topografi, disana daerah tinggi kok, tapi kenapa bisa banjir? Untuk itu perlu ada penelitian dan harus cek kelapangan secara langsung, jangan sampai nanti yang diobati dada kanan sedangkan yang sakit dada kiri, ini yang harus dievaluasi bersama,” jelasnya.
Terkait gorong-gorong yang tersumbat karena adanya bangunan-bangunan diatas aliran sungai, Tyo menyampaikan bahwa RT setempat harus mengkomunikasikan kepada warganya.
“Harus legowo juga baik RT- nya atau warganya. Tapi harus diperiksa dahulu karena itu bicaranya soal teknis juga, kita lihat lah nanti bagaimana fisiknya,” pungkas Tyo.
