Insitekaltim, Samarinda — Sekretaris Daerah (Sekda) Kalimantan Timur (Kaltim) Sri Wahyuni menegaskan bela negara tidak selalu dimaknai sebagai perjuangan bersenjata, melainkan diwujudkan melalui kepedulian sosial serta partisipasi aktif masyarakat dalam merespons berbagai persoalan kebangsaan.
Menurut Sri Wahyuni, esensi bela negara saat ini terletak pada kemampuan seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Tantangan tersebut tidak hanya berupa ancaman fisik, tetapi juga bencana alam, persoalan sosial, hingga kondisi kemanusiaan yang membutuhkan kehadiran dan solidaritas bersama.
“Bela negara berarti kita memiliki panggilan hati untuk membantu sesama, termasuk saudara-saudara kita yang sedang tertimpa musibah. Kepedulian terhadap masyarakat adalah wujud nyata cinta kita kepada bangsa,” ujarnya di Lapangan Stadion Madya Kadrie Oening, Samarinda, Jumat, 19 Desember 2025
Ia mencontohkan bencana alam yang menimpa sejumlah wilayah di Indonesia, khususnya di Pulau Sumatera, sebagai gambaran nyata pentingnya kesadaran bela negara dalam bentuk solidaritas sosial. Menurutnya, dukungan lintas daerah dan kepedulian masyarakat mencerminkan persatuan nasional yang harus terus dijaga.
Sri Wahyuni menambahkan, upaya membangun kesadaran bela negara menjadi semakin penting di tengah berbagai tantangan saat ini. Solidaritas sosial, empati, serta kesediaan untuk terlibat langsung dalam membantu masyarakat dinilai sebagai fondasi utama dalam menjaga ketahanan bangsa.
Selain itu, ia menekankan bahwa bela negara juga dapat diwujudkan melalui tindakan sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Kepedulian terhadap lingkungan, keluarga, dan masyarakat sekitar memiliki peran strategis dalam menjaga stabilitas sosial serta memperkuat persatuan.
“Peduli terhadap lingkungan, masyarakat, orang tua, dan keluarga merupakan bagian dari bela negara yang relevan dengan kondisi saat ini,” ungkapnya.
Sri Wahyuni berharap pemahaman bela negara yang lebih inklusif dapat mendorong masyarakat untuk berkontribusi sesuai kapasitas masing-masing.
“Dengan demikian, bela negara tidak lagi dipahami secara sempit, tetapi menjadi sikap kolektif yang memperkuat kebersamaan, ketahanan sosial, dan keberlanjutan bangsa di tengah berbagai tantangan,” pungkasnya.

