Insitekaltim, Samarinda — Sekretaris Daerah (Sekda) Kalimantan Timur (Kaltim) Sri Wahyuni menegaskan semangat bela negara harus dimaknai sebagai kekuatan kolektif bangsa dalam merespons berbagai ancaman modern, mulai dari krisis geopolitik hingga meningkatnya frekuensi bencana alam.
Hal tersebut disampaikannya saat memberikan sambutan pada upacara peringatan Hari Bela Negara di Lapangan Stadion Madya Kadrie Oening, Samarinda pada Jumat, 19 Desember 2025.
Sri Wahyuni menjelaskan, peringatan Hari Bela Negara tidak dapat dilepaskan dari sejarah berdirinya Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) di Bukittinggi. Peristiwa tersebut menjadi bukti nyata bahwa kesiapsiagaan dan semangat bela negara mampu menjaga keberlangsungan pemerintahan dan kedaulatan negara dalam situasi paling kritis.
“Ancaman terhadap negara saat ini tidak lagi bersifat konvensional, tetapi hadir dalam bentuk perang siber, radikalisme, disrupsi teknologi, krisis energi, hingga manipulasi informasi,” ujarnya.
Ia menekankan, kemajuan bangsa hanya dapat dicapai apabila seluruh elemen masyarakat memiliki disiplin, ketangguhan, serta kesiapsiagaan dalam menghadapi dinamika global yang cepat dan penuh ketidakpastian. Oleh karena itu, bela negara tidak cukup dimaknai sebagai kewajiban militer semata, melainkan sebagai sikap dan peran aktif warga negara dalam kehidupan sehari-hari.
Sri Wahyuni juga menyoroti bencana alam yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia, seperti Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Menurutnya, kondisi tersebut merupakan panggilan moral bagi seluruh bangsa untuk menunjukkan solidaritas kebangsaan dan kepedulian sosial.
Ketiga wilayah tersebut, lanjutnya, memiliki peran historis penting dalam perjalanan Republik Indonesia. Aceh dikenal sebagai daerah yang memberikan dukungan besar terhadap perjuangan kemerdekaan melalui kontribusi logistik dan pendanaan. Sumatera Utara menjadi pusat perlawanan rakyat terhadap agresi kolonial, sementara Sumatera Barat, khususnya Bukittinggi, menjadi lokasi lahirnya PDRI yang menjaga keberlangsungan pemerintahan Republik Indonesia saat ibu kota diduduki.
“Tanpa keteguhan Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, sejarah bela negara Indonesia tidak akan utuh,” tegasnya.
Lebih lanjut, Sri Wahyuni menekankan bahwa implementasi bela negara pada masa kini harus diwujudkan melalui tindakan nyata, seperti membantu masyarakat terdampak bencana, menjaga ruang digital dari penyebaran hoaks, memperkuat ketahanan ekonomi keluarga, serta berkontribusi aktif dalam pembangunan sesuai peran dan profesi masing-masing.
“Bela negara harus diwujudkan melalui tindakan nyata, mulai dari membantu korban bencana, menangkal hoaks, memperkuat ketahanan ekonomi keluarga, hingga berkontribusi aktif sesuai peran masing-masing,” pungkasnya.

